
Tandaglobalnews JATI, KEDIRI — Terletak di wilayah strategis Kecamatan Jati, Desa Krenceng menyimpan perpaduan memikat antara nilai sejarah yang kuat, kehidupan sosial yang guyub, serta denyut nadi perekonomian yang bertumpu pada sektor pertanian dan industri kreatif. Dipimpin oleh Kepala Desa Nur Huda sejak tahun 2023, desa ini terus melangkah maju menghadapi dinamika zaman.
Untuk memetakan lebih dalam mengenai potensi desa ini, Kasih Pelayanan sekaligus Plt. Sekretaris Desa Krenceng, Misbahul Huda, memberikan pemaparan komprehensif mengenai profil dan dinamika internal desa.
Berdasarkan penjelasan Misbahul Huda, Desa Krenceng memiliki akar sejarah panjang yang membentang jauh sebelum era kemerdekaan, bahkan diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan. Sejarah mencatat terdapat dua tokoh penting yang menjadi pelopor pembuka wilayah (babat desa). Wilayah Jati pertama kali dibabat oleh Ki Ageng Manis, yang petilasannya hingga kini berada di area sekitar desa. Sementara itu, untuk wilayah Jatisari ke arah sana, proses pembukaan lahan dipelopori oleh Mbah Kertoyudo.
Pemerintahan desa yang terstruktur sendiri tercatat mulai berjalan sekitar tahun 1948 atau 1949 dengan dilantiknya lurah pertama. Terkait asal-usul nama “Krenceng”, Misbahul Huda menceritakan kisah turun-temurun warga bahwa nama ini diambil dari keberadaan sebuah sumber mata air di desa tersebut. Konon, sumber air tersebut mengeluarkan suara khas yang terdengar seperti “krencek-krencek” atau “krenceng-krenceng”, sehingga wilayah di sekitarnya dinamakan Desa Krenceng.

Sebagai desa dengan jejak historis yang kuat, Misbahul Huda mengonfirmasi bahwa Krenceng sempat menemukan benda bersejarah yang bernilai tinggi. Pada tahun 2022, sebuah Arca Ganesha berukuran kecil berhasil ditemukan di wilayah Dusun Kwagean.
Sempat diamankan oleh kelompok peduli budaya, arca kuno tersebut kini telah dibawa kembali oleh warga setempat. Misbahul Huda menjelaskan bahwa saat ini arca tersebut disimpan dengan aman di rumah kepala dusun (kasun) yang lama sebagai salah satu bukti warisan leluhur desa.
Dari sektor kependudukan, Misbahul Huda memaparkan data mutakhir bahwa Desa Krenceng memiliki populasi yang cukup besar, yakni mencapai 10.213 jiwa pada akhir tahun 2025. Karakteristik sosial masyarakat Krenceng dikenal sangat fluktuatif namun tetap terjaga dalam tatanan yang harmonis.
Mayoritas masyarakat, yakni sekitar 70 persen, menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sementara 30 persen sisanya bergerak di sektor perdagangan, industri rumahan (UMKM), karyawan pabrik, serta sektor swasta lainnya.
Selain dikenal produktif menghasilkan komoditas pertanian seperti cabai, Misbahul Huda juga menyoroti posisi Desa Krenceng sebagai pusat ekonomi kreatif melalui dua produk unggulan non-pertanian:
Sentra Getuk Pisang: Kuliner khas Kediri ini menjadi salah satu penopang ekonomi warga lokal, di mana produksinya terpusat dan digemari oleh wisatawan luar daerah.
Kerajinan Tas Anyaman: Industri ini tengah berkembang pesat di sepanjang jalan utama desa. Misbahul Huda menjelaskan sistem produksinya berbasis pemberdayaan masyarakat, di mana para ibu rumah tangga memproduksi anyaman tas di rumah masing-masing sebelum kemudian disetorkan ke pusat pengepul besar.
Di bidang pariwisata, Misbahul Huda menjelaskan bahwa Desa Krenceng tengah memfokuskan perhatian pada pengembangan kawasan wisata Ragil Kuning. Sektor ini sempat mengalami penurunan aktivitas pasca-pandemi COVID-19, namun kini mulai ditata kembali.
Ragil Kuning dioptimalkan sebagai bumi perkemahan serta pusat budidaya jamur tiram. Saat ini, terdapat sekitar 4.000 log jamur yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pihak desa menargetkan pengembangan mencapai 8.000 hingga 10.000 log pada tahun ini. Kawasan ini juga mulai rutin menerima kunjungan wisata edukasi dari berbagai lembaga sekolah.
Misbahul Huda tidak menampik adanya tantangan besar dalam hal finansial desa. Pengalihan dan pemangkasan dana desa secara signifikan dari sekitar Rp1,5 miliar menjadi Rp300-an juta demi mendukung pembangunan gerai KDMP membuat pembangunan fisik di desa tidak semasif dulu. Kendati demikian, ia menyebutkan bahwa pada tahun ini pemerintah desa tetap mengalokasikan pembangunan satu Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 150 meter di wilayah Jati.
Tantangan lain yang dihadapi adalah faktor cuaca ekstrem yang kering dan panas, yang kerap berdampak pada hasil panen pertanian serta kenaikan harga barang secara global. Menyikapi hal tersebut, Misbahul Huda menjelaskan bahwa pihak desa telah melakukan antisipasi sejak awal dengan membangun beberapa titik sumur bor pertanian menggunakan anggaran tahun-tahun sebelumnya, yang kini sangat membantu para petani dalam menjaga ketersediaan air lahan di musim kemarau.
Di akhir wawancara, Misbahul Huda membagikan rekam jejak prestasi yang berhasil dikantongi oleh Desa Krenceng di tingkat regional, antara lain:
Juara 3 Tingkat Provinsi: Diraih melalui perlombaan Kampung KB.
Penghargaan Pengelolaan Keuangan Terbaik Tingkat Kecamatan: Diraih selama dua tahun berturut-turut (anggaran 2024 dan 2025) atas akuntabilitas dan transparansi tata kelola anggaran desa.
Melalui penjelasan mendalam dari Misbahul Huda, terlihat jelas bahwa sinergi antara kepemimpinan yang fokus, kekayaan sejarah, serta ketahanan ekonomi kreatif warga menjadi fondasi utama bagi Desa Krenceng untuk terus mandiri dan berkembang di masa depan.