Petani Bawang Merah di Puncu Keluhkan Tingginya Biaya Produksi Saat Musim Kemarau

Sawah petani bawang, Santoso, di Desa Asmorobangun. (Foto: TGN/Maulana Rahmadha)

Tandaglobal.news | KEDIRI — Musim kemarau yang mulai berlangsung di wilayah Kabupaten Kediri membawa tantangan tersendiri bagi petani bawang merah. Keterbatasan pasokan air, meningkatnya biaya produksi, hingga ancaman hama menjadi persoalan yang harus dihadapi para petani untuk mempertahankan hasil panen.

Salah seorang petani bawang merah di Dusun Dampit, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Santoso, mengungkapkan bahwa kondisi kemarau tahun ini membuat ketersediaan air irigasi semakin menyusut. Banyak petani kini bergantung pada sumur bor dan pompa air dengan biaya operasional yang cukup tinggi.

Menurutnya, tanaman bawang merah membutuhkan penyiraman secara rutin, terutama pada fase pembentukan umbi. Kekurangan pasokan air pada tahap tersebut dapat berdampak signifikan terhadap hasil panen.

“Kalau musim kemarau seperti sekarang, penyiraman harus dilakukan pagi dan sore. Kalau sampai kekurangan air saat pembentukan umbi, hasil panen bisa turun sampai 30 sampai 50 persen, dan ukuran bawangnya juga jadi kecil-kecil,” ujar Santoso, Sabtu (27/6/2026).

Selain persoalan air, Santoso juga mengeluhkan melonjaknya biaya produksi. Harga pupuk, bibit, serta bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air mengalami kenaikan. Sementara itu, kebutuhan pemupukan pada musim kemarau cenderung lebih intensif dibandingkan musim penghujan.

Petani juga harus mengeluarkan modal tambahan untuk menyediakan berbagai sarana pendukung, seperti pompa air, selang, mulsa plastik, hingga sistem irigasi tetes, agar tanaman tetap memperoleh pasokan air yang cukup selama musim kering.

Di sisi lain, cuaca panas yang berkepanjangan turut meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Serangan ulat grayak, trips, hingga jamur kerap muncul pada musim kemarau. Kondisi tersebut membuat petani harus lebih sering melakukan penyemprotan pestisida yang berimbas pada bertambahnya biaya perawatan.

Baca Juga  Pak Mesdi dan Senjakala Pasar Sepeda Loak

Tak hanya itu, Santoso menilai fluktuasi harga bawang merah juga menjadi persoalan tersendiri. Saat memasuki masa panen raya pada musim kemarau, pasokan bawang di pasaran melimpah sehingga harga di tingkat petani cenderung turun, meskipun harga di tingkat konsumen masih relatif tinggi.

Ia berharap Pemerintah dapat meningkatkan dukungan kepada petani, terutama dalam penyediaan sarana irigasi, bantuan pompa air, serta kemudahan akses permodalan dan subsidi pupuk agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah tantangan musim kemarau.


Penulis: Maulana Rahmadha

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *