Diguyur Hujan Saat Puncak Grebeg Suro, Warga Bedali Anggap Sebagai Berkah di Tengah Kemarau

Tumpeng hasil bumi berbentuk gunungan diarak dalam perayaan Grebeg Suro di Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Selasa (23/6/2026). Berbagai hasil pertanian seperti sayur dan buah disusun sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas berkah dan kesuburan. (Foto: Dok.TGN/Eka Putri Maryani)

Tandaglobal.news | KEDIRI – Hujan yang turun saat pelaksanaan Grebeg Suro di Lapangan Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Selasa, 23 Juni 2026, menjadi momen yang paling berkesan bagi masyarakat. Di tengah musim kemarau yang telah berlangsung beberapa hari, turunnya hujan justru disambut sebagai berkah dan pertanda baik.

Perayaan Grebeg Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Jawa tersebut dihadiri ribuan warga dari berbagai kalangan. Seluruh komponen masyarakat desa turut berpartisipasi, mulai dari lima dusun, kelompok tani, lembaga pendidikan, hingga berbagai organisasi kemasyarakatan.

Purwito, staf Kecamatan Ngancar, mengatakan hujan yang turun di tengah acara tidak mengurangi makna dan semangat masyarakat dalam mengikuti rangkaian tradisi tahunan tersebut.

“Awalnya memang ada sedikit kepanikan karena warga khawatir makanan yang dibawa menjadi basah. Namun bagi kami, hujan ini justru merupakan berkah yang luar biasa karena sudah beberapa hari wilayah kami tidak turun hujan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Jawa sejak dahulu memaknai hujan sebagai simbol kesuburan, keberkahan, dan harapan baik bagi kehidupan. Karena itu, turunnya hujan saat Grebeg Suro dianggap sejalan dengan semangat rasa syukur yang menjadi inti dari pelaksanaan tradisi tersebut.

Pelaksanaan Grebeg Suro tahun ini juga mencatat antusiasme yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan hanya dipusatkan di Balai Desa, kali ini acara digelar di lapangan terbuka sehingga mampu menampung lebih banyak peserta.

Sebanyak 1.000 tumpeng dan 1.000 Takir Plontang disiapkan oleh masyarakat sebagai bagian dari prosesi adat. Ribuan warga tampak memadati lokasi acara untuk mengikuti doa bersama, kirab budaya, hingga pertunjukan kesenian tradisional.

Purwito menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa kesadaran warga untuk menjaga tradisi leluhur semakin kuat dari tahun ke tahun.

Baca Juga  Penjualan Es Buah Meningkat Drastis Saat Musim Kemarau di Kandangan

“Kami bersyukur masyarakat sangat antusias. Ini menunjukkan budaya warisan leluhur masih dicintai dan menjadi bagian penting dalam kehidupan warga Bedali,” ujarnya.

Ia berharap semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar tradisi Grebeg Suro tetap lestari di masa mendatang.

“Budaya ini bukan hanya milik generasi tua, tetapi juga harus dikenalkan kepada anak-anak dan generasi muda supaya mereka memahami sejarah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” pungkasnya.


Jurnalis: Eka Putri Maryani

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *