
Tandaglobalnews KEDIRI – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Kediri terus memperkuat pengawasan partisipatif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui rangkaian kegiatan uji petik, pendidikan pengawas partisipatif, hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan.
Komisioner Bawaslu Kabupaten Kediri Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat, Siswo Budi Santoso, mengatakan pengawasan partisipatif menjadi salah satu fokus utama lembaganya dalam menyongsong tahapan Pemilu dan Pemilihan mendatang.
“Agenda kami saat ini masih melaksanakan uji petik dan pendidikan pengawas partisipatif. Kegiatan ini menyasar sekolah-sekolah, organisasi mahasiswa, hingga organisasi kepemudaan,” kata Siswo.
Menurutnya, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan di beberapa lembaga pendidikan, termasuk MAN Tarokan dan MAN Purwoasri. Bawaslu juga telah menyiapkan agenda lanjutan berupa Sekolah Pengawasan Partisipatif yang akan digelar pada September mendatang secara daring.
Selain itu, Bawaslu Kabupaten Kediri juga akan memperluas kolaborasi dengan dunia pendidikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Institut Agama Islam (IAI) Badrus Sholeh pada pekan depan.
Siswo menjelaskan, program pengawasan partisipatif bertujuan mendorong masyarakat, khususnya kalangan muda, agar terlibat aktif dalam mengawal seluruh tahapan pemilu maupun pemilihan kepala daerah.
Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kualitas demokrasi merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata tugas Bawaslu.
“Kami ingin membangun pemahaman bahwa demokrasi harus dijaga bersama. Masyarakat perlu memahami proses demokrasi, memiliki sikap kritis, berani melaporkan pelanggaran, serta tetap independen dan objektif tanpa berpihak kepada peserta tertentu,” ujarnya.
Meski demikian, Bawaslu mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Salah satu yang paling menonjol adalah menurunnya perhatian generasi muda terhadap isu-isu kepemiluan, padahal kelompok tersebut merupakan mayoritas pemilih di Indonesia.
Selain itu, rendahnya literasi politik dan derasnya arus informasi di media sosial, termasuk penyebaran hoaks, turut menjadi tantangan dalam membangun kesadaran pengawasan pemilu.
“Tantangan utama saat ini adalah bagaimana mengubah pengawasan pemilu dari sesuatu yang dianggap serius dan jauh dari kehidupan anak muda menjadi gerakan yang relevan, menarik, dan dekat dengan keseharian mereka,” jelasnya.
Karena itu, Bawaslu Kabupaten Kediri terus mengembangkan pendekatan yang lebih kreatif melalui kolaborasi dengan kampus, sekolah, komunitas, influencer, serta pemanfaatan berbagai platform media sosial.
Melalui langkah tersebut, Bawaslu berharap semakin banyak masyarakat yang tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga turut berperan aktif dalam mengawal proses demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas.
Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim