
Foto: Wildan Wahid Hasyim/Tandaglobalnews
Tandaglobalnews KEDIRI – Di saat sejumlah SMP negeri di Kabupaten Kediri dibanjiri ribuan pendaftar pada hari-hari awal Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, suasana berbeda justru terlihat di MTs Annidhom Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih.
Madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1978 itu hingga kini baru menerima tiga calon siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Di balik bangunan sederhana yang telah puluhan tahun menjadi tempat belajar anak-anak desa, para guru dan pengelola sekolah masih terus berharap akan datang lebih banyak siswa yang memilih melanjutkan pendidikan di sana.
“Alhamdulillah sampai saat ini sudah ada tiga siswa yang mendaftar. Ada yang berasal dari Tulungagung karena pindah rumah ke sini, ada dari sekitar Branggahan dan Purwokerto,” ujar Kepala MTs Annidhom, Titik Rohmiati.
Jumlah tersebut jauh dari kapasitas yang sebenarnya mampu ditampung sekolah. Dengan tiga ruang kelas yang tersedia, setiap rombongan belajar dapat menampung antara 20 hingga 30 siswa.
Namun, persaingan antarlembaga pendidikan yang semakin ketat membuat sekolah-sekolah kecil seperti MTs Annidhom menghadapi tantangan berat setiap tahun ajaran baru.
“Kalau dulu muridnya banyak sekali. Saat itu sekolah masih sedikit. Sekarang di Kecamatan Ngadiluwih saja ada empat MTs swasta, dua SMP negeri, beberapa SMP swasta, ditambah banyak anak yang memilih sekolah ke kota,” katanya.
Menurut Titik, kondisi tersebut diperparah oleh semakin banyaknya pilihan sekolah yang tersedia bagi masyarakat. Di sisi lain, jumlah anak usia sekolah tidak bertambah signifikan sehingga setiap lembaga pendidikan harus bersaing mendapatkan peserta didik.
Padahal, MTs Annidhom bukanlah sekolah baru. Madrasah ini telah berdiri sejak Maret 1978. Pada masa awal berdiri, kegiatan belajar mengajar masih menumpang di gedung Madrasah Ibtidaiyah sebelum akhirnya memiliki gedung sendiri pada 1995.Kini, jumlah siswa aktif di seluruh jenjang hanya sembilan orang.
Meski demikian, para guru tidak menyerah. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik minat masyarakat, salah satunya dengan menyiapkan program kursus Bahasa Inggris gratis selama masa liburan sekolah.
“Kami ingin mengadakan kursus Bahasa Inggris dan menyebarkan pamflet ke berbagai sekolah. Selain menambah kemampuan anak-anak, harapannya juga bisa mengurangi ketergantungan mereka terhadap gadget selama liburan,” ungkap Titik.

Selain itu, sekolah juga terus mengembangkan program unggulan berbasis pendidikan karakter dan keagamaan. Untuk bisa lulus dari MTs Annidhom, siswa diwajibkan menghafal Asmaul Husna, mampu menjadi imam Salat Dhuha, serta menghafal 17 surat pendek dalam Juz Amma.
Tidak hanya itu, sekolah juga memiliki sejumlah kegiatan ekstrakurikuler yang jarang ditemui di sekolah lain, seperti batik shibori, ecoprint, pembuatan tote bag berbahan alami, hingga rebana. Hasil karya siswa bahkan pernah dipamerkan dalam berbagai kegiatan desa dan berhasil terjual kepada masyarakat.
Namun di balik berbagai program tersebut, keterbatasan sarana masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Sekolah belum memiliki fasilitas penunjang modern seperti smart board maupun laboratorium komputer yang memadai. Bahkan, alat rebana yang digunakan siswa untuk latihan merupakan milik pribadi guru yang dipinjamkan demi keberlangsungan kegiatan ekstrakurikuler.
“Kalau alat rebana itu milik guru. Dibawa dari rumah supaya anak-anak tetap bisa latihan,” tutur Titik.
Bagi para guru di MTs Annidhom, tantangan terbesar bukan sekadar mencari siswa baru. Banyak peserta didik yang mereka dampingi berasal dari keluarga kurang mampu hingga keluarga broken home. Dalam kondisi tertentu, guru bahkan harus mengantar dan menjemput siswa agar tetap bisa bersekolah.
“Ada yang kami antar pulang, ada yang kami jemput. Bahkan ada yang kami dampingi seperti keluarga sendiri. Karena kebanyakan anak-anak di sini berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah,” katanya.
Yang lebih mengharukan, seluruh guru yang berjumlah sembilan orang masih berstatus tenaga yayasan. Sementara sekolah tidak memungut biaya SPP bulanan kepada siswa. Orang tua hanya dibebani biaya pada momen tertentu seperti ujian semester, tugas akhir, dan pengambilan ijazah.
“Kalau dihitung secara ekonomi sebenarnya tidak sebanding. Tetapi kami di sini memang pengabdian. Tujuan kami membimbing dan mencerdaskan anak-anak,” ucap Titik.
Di tengah gegap gempita SPMB 2026 dan persaingan antarsekolah yang semakin ketat, kisah MTs Annidhom menjadi potret perjuangan sekolah-sekolah kecil yang tetap bertahan.
Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim