TAKENGON, TandaGlobal.news PT Ketiara merupakan salah satu nama penting dalam perkembangan industri kopi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Perusahaan ini tumbuh dari usaha perdagangan kopi skala kecil hingga berkembang menjadi perusahaan yang mengolah dan mengekspor kopi Arabika Gayo.

Kisah Ketiara tidak bermula dari perusahaan besar. Perjalanan tersebut berkaitan erat dengan Rahmah, perempuan asal Takengon yang sejak kecil telah dekat dengan kegiatan perdagangan kopi. Orang tua dan keluarganya juga merupakan petani serta pedagang kopi.

Pada tahap awal, Rahmah menjalankan perdagangan kopi dalam skala lokal. Salah satu sumber menyebut ia memulai usaha dari kios kebutuhan pokok dengan menggunakan sistem barter, ketika masyarakat membawa kopi untuk ditukar dengan kebutuhan rumah tangga. Dari aktivitas tersebut kemudian terbentuk jaringan perdagangan dengan petani kopi di sekitar Takengon.

Kegiatan perdagangan itu terus berkembang. Rahmah membeli kopi dari petani, mengolahnya, kemudian menjualnya kepada pedagang yang lebih besar. Pada tahap berikutnya, ia mulai memahami bahwa kopi Gayo memiliki pasar yang jauh lebih luas dibandingkan pasar lokal.

Salah satu titik penting terjadi ketika kopi Gayo yang diperdagangkannya dikirim ke Medan. Dari hubungan dengan pedagang dan eksportir di Medan, Rahmah mulai mengetahui bahwa kopi Gayo dipasarkan ke luar negeri. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya membangun usaha yang lebih besar.

Sumber sejarah mengenai Ketiara mencatat beberapa tahun berbeda untuk tahap awal badan usaha. Kajian mengenai sistem produksi menyebut usaha keluarga Ketiara bermula pada 1995, sedangkan dokumentasi lain mencatat Rahmah membentuk UD Ketiara pada 2002 dan kemudian mengembangkan usaha menjadi PT Ketiara pada 2012. Karena terdapat perbedaan pencatatan, tahun-tahun tersebut sebaiknya dipahami sebagai tahapan perkembangan usaha, bukan satu tanggal pendirian tunggal.

Perkembangan lain yang sangat penting terjadi pada 2009, ketika Rahmah bersama para pedagang dan petani lokal membentuk Koperasi Pedagang Kopi Ketiara atau KOPEPI Ketiara. Salah satu sumber mencatat koperasi tersebut pada awalnya melibatkan 37 pedagang dan petani.

Koperasi tersebut menjadi bagian penting dari model usaha Ketiara karena petani tidak hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku. Mereka menjadi anggota sekaligus bagian dari jaringan produksi dan pemasaran kopi.

Ketiara berpusat di kawasan Umang, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, di dataran tinggi Gayo. Kondisi geografis kawasan tersebut sangat sesuai untuk budidaya Arabika. Data Ketiara mencatat area produksi berada pada ketinggian sekitar 1.200–1.650 meter di atas permukaan laut.

Kopi yang menjadi bahan utama adalah Arabika Gayo. Petani memasok buah kopi yang kemudian diproses melalui sistem pengolahan sesuai dengan standar kualitas ekspor.

Ketiara kemudian berkembang menjadi organisasi kopi yang berorientasi ekspor. Perusahaan dan koperasi membangun hubungan dengan pembeli serta pemanggang kopi di berbagai negara.

Pada 2016, Ketiara mendapatkan peran tambahan dalam sistem perdagangan komoditas. PT Ketiara memperoleh persetujuan sebagai Pengelola Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) Aceh Tengah. Pada tahun yang sama, laboratorium Ketiara juga memperoleh persetujuan sebagai lembaga penilaian kesesuaian untuk pengujian mutu kopi SRG.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Ketiara tidak hanya berkaitan dengan pembelian dan ekspor kopi, tetapi juga mencakup infrastruktur perdagangan serta pengujian mutu.

Ketiara juga mengembangkan sistem produksi dengan sertifikasi. Data perusahaan saat ini mencatat sekitar 1.690 rumah tangga petani anggota, area produksi lebih dari 1.150 hektare, produksi organik sekitar 1.018 ton per tahun, serta sertifikasi organik EU dan NOP dan Fairtrade.

Perusahaan juga menyebut telah melakukan ekspor secara mandiri selama lebih dari satu dekade. Pasarnya mencakup berbagai negara, sementara sebagian besar penjualan Ketiara berasal dari pasar ekspor.

Dari sisi sosial, Ketiara memiliki karakter berbeda dari perusahaan perkebunan besar. Model usahanya bertumpu pada hubungan dengan petani kopi di dataran tinggi Gayo. Karena itu, perkembangan Ketiara sekaligus memperlihatkan bagaimana komoditas kopi rakyat dapat dibangun menjadi produk ekspor bernilai tinggi.

Ketiara juga dikenal sebagai organisasi yang memberikan ruang besar bagi perempuan dalam kegiatan ekonomi kopi. Kepemimpinan Rahmah menjadi bagian penting dari sejarah tersebut, terutama karena usaha yang dimulai dari perdagangan lokal kemudian berkembang menjadi jaringan produksi dan ekspor.

Sejarah Ketiara pada akhirnya merupakan sejarah transformasi ekonomi kopi Gayo. Dari kios dan perdagangan kopi desa, usaha tersebut berkembang menjadi badan usaha, kemudian membangun koperasi petani, fasilitas pengolahan, sistem pengujian mutu, serta jaringan ekspor.

Dengan basis petani di dataran tinggi Gayo, Ketiara menjadi salah satu contoh bagaimana kopi rakyat Aceh dapat masuk ke pasar internasional tanpa sepenuhnya kehilangan hubungan dengan komunitas petani yang menjadi sumber produksinya.