Tandaglobal.news | Malang — Kisah Annie van Driel dan Kromo menggambarkan perjalanan hubungan lintas budaya yang berlangsung di lingkungan Pabrik Gula Kebonagung pada masa kolonial.

Di garasi rumah Administrateur Pabrik Gula Kebonagung, Annie van Driel menemukan kedekatan dengan Kromo, seorang sopir muda yang bekerja di lingkungan tersebut.

Hubungan keduanya tumbuh ketika Kromo menjadi sosok yang mendengarkan Annie di tengah kehidupan keluarga Eropa yang penuh aturan sosial.

Di bawah cahaya lampu teplok, Annie pernah mengungkapkan perasaannya kepada Kromo dengan kalimat, “Ik hou van je, Kromo…”

Kromo kemudian menjawab, “Aku yo tresno tenan karo kowe, Noni. Ora peduli kowe putih, aku ireng.”

Hubungan tersebut berubah setelah ayah Annie mengetahui kedekatan mereka pada Oktober 1919.

Dalam cerita tersebut, Kromo mendapat hukuman fisik dari ayah Annie, sementara Annie dikurung di kamarnya dan diputuskan untuk dikirim kembali ke Belanda.

Namun, Annie memilih untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Saat kapal SS Melchior Treub transit di Tanjung Priok setelah berlayar dari Tanjung Perak, Annie mengambil keputusan untuk meninggalkan perjalanan pulang ke Belanda.

Ia turun secara diam-diam dari kapal, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Surabaya dan Malang.

Di Pasar Gede, Annie menggunakan uang terakhirnya untuk membeli kebaya sederhana dan sehelai jarik.

Ia juga memotong pendek rambut pirangnya sebagai tanda meninggalkan kehidupan lamanya.

Ketika Annie tiba di pondok Kromo di Pakisaji, lelaki itu hampir tidak mengenalinya.

“Kowe… Noni?” gumam Kromo.

Demi menjaga kehormatan Annie, Kromo kemudian menitipkannya kepada budenya, seorang janda tua yang dikenal baik hati.

Di tempat tersebut, Annie mulai menjalani kehidupan sederhana sebagai perempuan biasa.

Ia belajar melakukan pekerjaan rumah tangga dan menjalani keseharian yang berbeda dari kehidupannya di rumah administrateur.

Kabar tentang pilihan Annie akhirnya sampai kepada keluarga van Driel yang kemudian datang menemui mereka.

Ayah Annie tidak lagi menunjukkan kemarahan, tetapi menghadapi keadaan tersebut dengan sikap lelah.

Dalam kisah itu, keluarga Annie kemudian menawarkan pernikahan Islam sebagai jalan keluar hukum pada masa kolonial.

Pernikahan tersebut membuat Annie turun status menjadi Inlands sehingga keluarga van Driel dapat melepaskan tanggung jawab resminya di hadapan pemerintah kolonial.

Annie tetap memilih Kromo dan menyampaikan keputusan tersebut dengan berkata, “Aku milih kowe, Kromo. Ora peduli hukum apa sing nekatake.”

Pada 17 Februari 1923, Annie dan Kromo resmi menjadi pasangan suami istri melalui pernikahan di masjid kecil Pakisaji.

Annie mengenakan kebaya putih brokat pemberian ibunya, sementara Kromo mengenakan beskap hitam untuk acara tersebut.

Sembilan bulan kemudian, lahirlah Soekarmo van Driel yang membawa perpaduan nama Jawa dan Belanda.

Kelahiran anak tersebut menjadi bagian dari perjalanan dua keluarga dengan latar budaya berbeda.

Ketika ibu Annie datang mengunjungi cucunya secara diam-diam, ia menangis saat pertama kali menggendong bayi tersebut.

“Dia mirip kamu waktu kecil,” bisiknya kepada Annie.

Foto pernikahan Annie dan Kromo kemudian menjadi peninggalan keluarga yang masih disimpan hingga kini.

Di bawah foto tersebut terdapat tulisan Annie dengan tinta biru, “Voor altijd bij mijn Javaan, selawase karo wong Jawaku.”

Kalimat tersebut bermakna “Selamanya bersama pria Jawaku” dan menjadi simbol perjalanan hidup mereka.

Kisah Annie dan Kromo menjadi gambaran tentang hubungan dua budaya yang menghadapi batas sosial pada masa kolonial.

Meskipun tidak hidup dalam kemewahan, keduanya menemukan kehidupan bersama di sebuah pondok sederhana di Pakisaji.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.