Langkah pemerintah tersebut mendapat respons positif dari para petani di lapangan.
Agung Prihandono, petani jagung asal Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, mengaku bantuan dari pemerintah mengalir lancar tanpa kendala.
“Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala. Mulai dari alat mesin pertanian (alsintan) hingga pupuk, semuanya aman. Kelompok kami bahkan sudah dapat dua traktor,” ungkap Agung Prihandono.
Agung Prihandono yang menggarap lahan seluas 1 hektare ini menyebutkan, meski kemarau membuat debit air sumur berkurang sehingga ia harus memperdalam sumur, kondisi tersebut terbayar dengan harga jual panen yang sedang meningkat.
“Dalam setahun kami bisa panen tiga kali. Kebetulan harga jagung saat ini malah naik, lebih bagus dari tahun-tahun kemarin,” ujarnya semringah.
Meski demikian, Agung Prihandono menyimpan kekhawatiran terkait masa depan pertanian di desanya.
Ia menyoroti fenomena alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan serta minimnya minat generasi muda untuk turun ke sawah.
“Kekhawatiran itu pasti ada, lahan semakin berkurang. Selain itu, generasi mudanya juga kurang minat sama pertanian, kebanyakan petani usianya sudah tidak produktif. Tapi kami terus berupaya, kalau ada pertemuan-pertemuan kelompok tani, yang muda-muda ini kami ajak kumpul bareng agar mau terjun ke pertanian,” tutup Agung Prihandono.
Peringatan Hari Tani Nasional di Kediri tahun ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan petani diperlukan dalam menghadapi tantangan pertanian demi menjaga kedaulatan pangan bangsa.




















Tinggalkan Balasan