
Tandaglobal.news | Jakarta, 13 Juni 2026 – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, secara resmi membuka pameran lukisan bertajuk “Anak Dalam Lintasan Waktu” yang digelar oleh Bentara Budaya Jakarta, pada Kamis (11/6) lalu. Pameran ini menghadirkan konsep unik yang mempertemukan dua sudut pandang: karya para seniman dewasa yang mengangkat tema kehidupan dan sosok anak, serta karya-karya lukisan yang dibuat langsung oleh anak-anak, yang menggambarkan dunia, imajinasi, dan perasaan mereka sendiri secara murni, lugu, dan penuh warna .
Dalam sambutannya di hadapan para seniman, pendidik, orang tua, dan pengunjung, Wamen Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa pengenalan seni sejak usia dini bukan sekadar kegiatan tambahan atau hobi, melainkan bagian inti dari proses pendidikan yang utuh, menyeluruh, dan mendasar. Menurutnya, interaksi anak dengan seni—baik melihat, merasakan, maupun menciptakan karya—memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian, kepekaan rasa, serta cara pandang anak terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya .
“Kami memandang bahwa ketika anak-anak sejak usia dini dikenalkan dengan dunia seni, termasuk seni lukis, itu merupakan bagian dari upaya mengasah pengalaman estetis anak-anak kita. Dengan cara itu, kita dapat mengajarkan kepada anak-anak bagaimana sesungguhnya menjadi manusia. Menjadi manusia adalah hal yang sangat mendalam dalam konteks pendidikan. Pengalaman berinteraksi dengan seni tidak hanya mengembangkan kreativitas dan bakat, tetapi juga membantu anak memahami jati dirinya, perasaannya, serta lingkungan di sekitarnya dengan lebih baik,” tegas Fajar Riza Ul Haq dalam pidatonya .
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa seni menjadi media ekspresi yang paling jujur dan bebas bagi anak-anak, yang sering kali belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, pikirkan, atau impikan lewat kata-kata. Melalui goresan garis, permainan warna, dan bentuk-bentuk imajinatif dalam lukisan, anak-anak menumpahkan harapan, kegembiraan, ketakutan, hingga pemahaman mereka tentang kehidupan, keluarga, alam, dan masyarakat. Hal ini terlihat jelas dalam karya-karya anak yang dipamerkan, di mana setiap kanvas bercerita tentang dunia mereka yang luas, bebas, dan penuh makna.
Sementara itu, dari sisi karya seniman dewasa, tema “Anak Dalam Lintasan Waktu” mengangkat makna masa kanak-kanak sebagai masa emas pertumbuhan, perjalanan menuju kedewasaan, serta peran strategis anak sebagai penerus peradaban dan masa depan bangsa. Pertemuan karya lintas generasi ini menciptakan dialog yang indah dan mendalam: bagaimana anak dilihat oleh orang dewasa, dan bagaimana anak melihat dunianya sendiri—menjadi cerminan penting tentang makna tumbuh kembang manusia .
General Manager Bentara Budaya, Ilham Khoiri, menjelaskan bahwa pameran ini disusun sebagai kolaborasi lintas usia dan kreativitas, dengan tujuan memberikan ruang apresiasi yang setara bagi karya seniman mapan maupun karya anak-anak. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi jembatan budaya sekaligus pengingat bagi semua pihak akan pentingnya menjaga ruang kreativitas anak agar imajinasi dan karakter mereka tumbuh kuat dan utuh .
Pemerintah melalui Kemendikdasmen menekankan bahwa pendidikan seni harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum dan pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Seni dinilai mampu menyeimbangkan perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan spiritual anak, sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan rasa, berkarakter kuat, berbudaya luhur, dan mampu menghargai keindahan serta keberagaman.
Pameran “Anak Dalam Lintasan Waktu” diharapkan menjadi momentum yang menguatkan komitmen bersama: bahwa setiap anak berhak berkreasi, berimajinasi, dan mengenal dirinya serta dunianya melalui seni, demi masa depan bangsa yang lebih kreatif, beradab, dan bermartabat.