Menyamar Jadi Wali Murid, Kadisdik Kediri Temukan Antrean SPMB SMPN 1 Ngasem Tembus 150 Pendaftar

Kadisdik Kediri Mokhamat Muhsin menyamar sebagai wali murid saat memantau SPMB SMPN 1 Ngasem.
(Foto: TGN/Wildan Wahid Hasyim)

TandaGlobalNews | KEDIRI – Pemandangan berbeda terlihat di hari pertama verifikasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili di SMP Negeri 1 Ngasem, Kabupaten Kediri, Senin (15/6/2026). Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, memilih datang tanpa atribut kedinasan dan berbaur layaknya wali murid untuk memantau langsung jalannya proses pendaftaran.

Dengan mengenakan pakaian sederhana, Muhsin mengaku telah berada di lokasi sejak pukul 07.45 WIB. Tanpa banyak orang yang mengenalinya, ia dapat mengamati secara langsung dinamika pelayanan verifikasi dokumen yang dipadati calon peserta didik dan orang tua.

“Hari ini saya melihat antreannya cukup banyak. Nomor antrean yang dilayani sudah sampai 150. Secara umum berjalan baik, hanya ada beberapa catatan terkait mekanisme antrean,” ujar Muhsin.

Dari hasil pemantauan, Muhsin menemukan sejumlah wali murid yang telah mengambil nomor antrean justru meninggalkan lokasi. Akibatnya, ketika nomor mereka dipanggil, yang bersangkutan tidak berada di tempat sehingga panitia harus melompati antrean dan melayani nomor yang lebih besar.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di antara peserta lain karena terlihat seolah-olah ada pihak yang menyerobot antrean.

“Ada nomor antrean kecil yang saat dipanggil tidak ada orangnya. Akhirnya panitia melayani nomor yang lebih besar. Ketika pemilik nomor awal kembali datang, mereka langsung masuk karena memang nomornya lebih kecil. Ini bisa menimbulkan kecurigaan dari peserta lain kalau tidak dipahami dengan baik,” jelasnya.

Muhsin mengimbau para wali murid untuk tetap menunggu di lokasi setelah mengambil nomor antrean agar proses pelayanan berjalan tertib dan tidak menimbulkan persepsi negatif.

Selain memantau pelaksanaan di SMPN 1 Ngasem, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri juga menerjunkan koordinator wilayah dan pengawas sekolah untuk melakukan pemantauan di sejumlah SMP negeri lainnya yang memiliki tingkat peminat tinggi.

Ia mengakui masih terdapat beberapa sekolah yang menjadi tujuan favorit masyarakat, di antaranya SMPN 1 Ngasem, SMPN 2 Pare, SMPN 1 Gurah, SMPN 1 Ngadiluwih, SMPN 1 Plemahan, dan SMPN 1 Wates.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak hanya terpaku pada sekolah yang dianggap favorit. Pilihlah sekolah yang peluang diterimanya lebih besar dan manfaatkan pilihan kedua maupun ketiga yang tersedia,” katanya.

Muhsin menambahkan, meskipun proses pendaftaran dilakukan secara daring, tahapan verifikasi tetap diperlukan untuk memastikan seluruh dokumen yang diunggah sesuai dengan data asli. Verifikasi ini dilakukan untuk mencegah kesalahan data maupun potensi kecurangan yang dapat merugikan peserta lain.

Sementara itu, Ketua Panitia SPMB SMPN 1 Ngasem, Muhammad Ishomudin, menyebut pelaksanaan verifikasi hari pertama jalur domisili berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Menurutnya, pengalaman pada tahap sebelumnya membuat para wali murid lebih siap dalam mengikuti prosedur pendaftaran.

“Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kendala. Orang tua sudah lebih memahami alurnya dibanding tahap pertama kemarin,” ujarnya.

Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Bahkan sejak sebelum loket dibuka pukul 06.30 WIB, sejumlah wali murid sudah mengantre di depan gerbang sekolah untuk mendapatkan nomor pelayanan.

Pada SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, SMPN 1 Ngasem menyediakan kuota sebanyak 320 siswa yang terbagi dalam 10 rombongan belajar (rombel). Kuota tersebut terdiri atas jalur domisili 40 persen atau 128 siswa, jalur prestasi 35 persen atau 112 siswa, jalur afirmasi 20 persen atau 64 siswa, serta jalur mutasi 5 persen atau 16 siswa.

“Untuk jalur afirmasi dan prestasi kuotanya sudah terpenuhi. Sedangkan jalur mutasi masih sekitar separuh dari kuota yang tersedia,” terang Ishomudin.

Tingginya minat masyarakat juga dirasakan oleh para wali murid. Salah satunya Didik Jatmiko, warga Desa Ngasem, yang mendaftarkan putrinya melalui jalur domisili.

Ia mengaku datang sejak pukul 06.00 WIB dan memperoleh nomor antrean 85. Meski harus menunggu cukup lama, dirinya tidak menemui kendala selama proses verifikasi berlangsung.

“Saya memilih SMPN 1 Ngasem karena dekat dengan rumah, jaraknya sekitar 1,3 kilometer. Kakaknya juga sekolah di sini dan diterima lewat jalur yang sama. Mudah-mudahan putri saya juga bisa diterima,” ungkapnya.

Tingginya jumlah pendaftar pada hari pertama menunjukkan bahwa SMPN 1 Ngasem masih menjadi salah satu sekolah negeri yang paling diminati masyarakat di Kabupaten Kediri. Namun demikian, Dinas Pendidikan berharap masyarakat dapat memanfaatkan seluruh pilihan sekolah yang tersedia agar distribusi peserta didik menjadi lebih merata.

administrator

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *