Ekonom: Rupiah Berpeluang Tembus Rp17.500 Berkat Stabilitas Ekonomi

Foto : Pengunjung menikmati hidangan di salah satu tempat makan di Kuningan City Mall, Jakarta, Sabtu (13/6/2026). (ANTARA FOTO/Fauzan/foc)

Tandaglobalnews | JAKARTA, – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren penguatan pada pekan depan seiring meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi ekonomi yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Setelah mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir, rupiah dinilai mulai memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak positif.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memproyeksikan rupiah berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, pasar mulai melihat arah kebijakan ekonomi nasional yang semakin jelas dan konsisten dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

“Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor,” ujar Fakhrul, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan domestik. Namun, sejumlah indikator kini mulai menunjukkan perbaikan yang memberikan sentimen positif bagi mata uang nasional.

Fakhrul menyebut terdapat tiga faktor utama yang menjadi penopang penguatan rupiah saat ini. Pertama, komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin. Kebijakan tersebut dinilai memberikan sinyal tegas kepada pasar bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama sekaligus meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.

Kedua, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, mulai memperbaiki persepsi pasar terhadap kesehatan fiskal Indonesia. Meski kebijakan tersebut tidak populer, pasar melihat langkah itu sebagai bentuk keberanian pemerintah dalam menjaga keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ketiga, efisiensi anggaran pada sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dinilai menjadi sinyal bahwa disiplin fiskal kembali diperkuat.

“Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” jelasnya.

Respons positif pasar terhadap perubahan arah kebijakan tersebut mulai terlihat. Pada pekan lalu, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.

“Pada minggu lalu rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan. Jika proses normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan tetap terjaga, peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbaik di kawasan pada pekan ini cukup terbuka,” katanya.

Selain faktor domestik, perkembangan geopolitik global juga dipandang dapat memperkuat momentum positif rupiah. Fakhrul menilai membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran berpotensi menurunkan premi risiko global.

Menurutnya, meredanya ketegangan geopolitik dapat memperbaiki sentimen pasar negara berkembang dan mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia.

“Apabila proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak ke arah yang positif, maka momentum penguatan rupiah dapat menjadi semakin kuat. Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Untuk pekan depan, Fakhrul memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.

Ia menegaskan bahwa penguatan rupiah saat ini tidak semata-mata didorong sentimen jangka pendek, tetapi mulai ditopang oleh perbaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

“Kita harus ingat bahwa selama beberapa bulan terakhir pasar mempertanyakan apakah Indonesia bersedia membayar biaya stabilisasi. Kini jawabannya mulai terlihat. BI sudah menaikkan suku bunga, pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal, dan pasar merespons dengan penguatan rupiah. Bagi investor, seeing is believing,” tutupnya.

Sumber : infopublik.id

author

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *