Gelar Karya Film di Pare Jadi Panggung Sineas Muda, Bidik Lahirkan Lapangan Kerja Kreatif

Tandaglobal.news | KEDIRI — Semangat membangun ekosistem perfilman lokal terlihat dalam kegiatan Gelar Karya Film yang digelar di Cafe Free Day, Puhrejo, Tulungrejo, Pare, Kabupaten Kediri, pada Selasa (30/6/2026) malam. Mengusung tema “Menampilkan karya terbaik hasil kreasi dan dedikasi para pembuat film”, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus ajang memperkenalkan karya para sineas muda kepada masyarakat.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menghadirkan karya-karya film hasil kreativitas pelajar SMK dan menjadi langkah awal untuk membangun komunitas perfilman yang lebih berkembang di wilayah Pare dan sekitarnya.

Ketua Pelaksana, Tofan Rian atau yang akrab disapa Rian, mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya bertujuan menampilkan hasil karya para pelajar, tetapi juga membangun wadah yang mampu mempertemukan para pegiat film muda dalam satu ekosistem.

“Satu tujuannya itu saya pengin menampilkan karyanya teman-teman atau anak-anak SMK itu ke umum, biar mereka tahu itu kan. Kedua, saya pengin membuat suatu wadah perfilman di Pare, di mana di situ kan ekosistemnya kan teman-teman SMK atau SMA,” ujar Rian saat ditemui di lokasi acara.

Dalam gelaran tersebut, sejumlah sekolah turut berpartisipasi, di antaranya SMK 17, SMK Bakti Mulya, dan SMK Hasanuddin. Kehadiran berbagai sekolah tersebut menjadi bukti tumbuhnya minat generasi muda terhadap dunia perfilman dan industri kreatif.

Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari dukungan pihak Cafe Free Day yang menyediakan tempat penyelenggaraan. Menurut Rian, dukungan tersebut sangat berarti karena sebelumnya ia sempat mengalami kesulitan mencari lokasi yang memiliki standar audio memadai untuk pemutaran film.

“Dari pemilik kafe ini, Bu Dewi dan Pak Harun itu, ‘Wis gak apa-apa Mas, saya mau mendukung. Tapi saya minta speknya gini-gini pak.’ Nah, akhirnya beliau berdua itu, ‘Oke kita siapkan seperti itu.’ Nah, seperti itu. Jadi mereka peduli, peduli ke anak-anak, peduli ke karyanya teman-teman SMK,” tambahnya.

Selain menjadi ajang pemutaran film, kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi para peserta. Melalui komunitas yang mulai terbentuk, mereka memiliki kesempatan memperluas relasi, bertukar pengalaman, serta mengenal peluang kerja di bidang industri kreatif.

Baca Juga  Rumpun Bambu di Grogol Terbakar, Damkar Kabupaten Kediri Berhasil Padamkan Api dalam Waktu Sekitar Satu Jam

Rian mengungkapkan bahwa komunitas yang dibangun tidak akan berhenti pada penyelenggaraan Gelar Karya Film. Sejumlah program lanjutan telah disiapkan untuk menjaga keberlangsungan aktivitas para pegiat film di daerah.

Rencana tersebut meliputi kegiatan screening film ke desa-desa dengan menayangkan karya siswa maupun guru SMK, pemutaran film ramah anak, hingga penyelenggaraan kelas akting yang menghadirkan pemateri dari kalangan aktor profesional.

“Ada kelas akting. Kelas akting itu jadi siapa yang pengin akting, belajar akting itu nanti bisa datang. Itu mungkin satu hari, dua hari gitu nah. Dan pematerinya juga nanti dari memang bener-bener aktor gitu kan. Banyak sebenarnya kalau agendanya,” jelas Rian.

Ia menambahkan, seluruh program tersebut nantinya akan dibuka secara gratis untuk masyarakat. Kebijakan itu diambil agar siapa pun memiliki kesempatan belajar perfilman, fotografi, videografi, maupun audio tanpa terkendala biaya yang relatif mahal.

Di akhir kegiatan, Rian berharap komunitas yang sedang dirintis dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat di wilayah Pare, Puncu, Kepung, Kasembon, dan daerah sekitarnya.

Menurutnya, banyak anak muda di daerah memiliki potensi besar untuk berkarya. Namun, keterbatasan akses dan rasa kurang percaya diri masih menjadi tantangan yang harus diatasi melalui pembinaan dalam sebuah komunitas.

“Sebenarnya kita tuh memiliki banyak bakat ya dari teman-teman, ya maaf, anak-anak ndeso itu sebenarnya itu mereka memiliki bakat. Cuman terkadang satu, mereka enggak pede. Makanya di situ kan ketika sudah masuk di komunitas ini mereka kita bangun pede-nya, ‘Iki loh anak ndeso yo iso nggawe film seperti ini’ gitu kan,” pungkasnya optimis.

Melalui wadah yang terus berkembang serta jaringan atau channel yang semakin luas, para sineas muda di daerah diharapkan memiliki kesempatan untuk berkarya dan bekerja di industri perfilman tanpa harus merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta maupun Yogyakarta.

Baca Juga  Masjid At Taqwa Wates Hidupkan Kegiatan Keagamaan

Penulis: Stefanie Eka Shaputri

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *