Embung Kebonrejo Jadi Penyelamat Petani Cabai Saat Kemrarau

Embung di Desa Kebonrejo menjadi sumber air utama yang membantu petani cabai tetap berproduksi selama musim kemarau.(Dok. Maulana Rahamdha / Tandaglobalnews)

Tandaglobal.news | Kediri — Keberadaan embung di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu infrastruktur penting yang menopang sektor pertanian, khususnya komoditas cabai. Dibangun sejak lebih dari satu dekade lalu, embung tersebut terbukti mampu membantu petani memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.

Sekretaris Desa Kebonrejo, Yayan Suprayogi, menjelaskan pembangunan embung berawal dari krisis harga cabai yang terjadi sekitar tahun 2012. Saat itu harga cabai melonjak tinggi akibat produksi menurun karena kemarau panjang yang menyebabkan petani kesulitan memperoleh pasokan air.

Menurutnya, kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat. Sejumlah kementerian bersama Mabes Polri melakukan peninjauan langsung ke Desa Kebonrejo untuk mencari penyebab tingginya harga cabai. Dari hasil evaluasi, minimnya infrastruktur sumber air menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani.

“Pada waktu itu sumur bor masih sangat terbatas, baru ada satu titik. Petani juga masih mengambil air dari sumber lain sehingga biaya operasionalnya sangat besar. Dari situlah muncul program pembangunan embung melalui dukungan Bank Indonesia untuk membantu kebutuhan air petani,” ujar Yayan saat ditemui di Desa Kebonrejo, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, proses perencanaan embung dimulai pada 2012 dan pembangunan dilaksanakan pada 2013. Namun, sebelum diresmikan pada 2014, embung tersebut sempat rusak akibat terdampak letusan Gunung Kelud sehingga harus dibangun kembali dari awal.

Saat ini, Desa Kebonrejo memiliki tiga titik embung mini yang masih aktif beroperasi. Satu embung berfungsi sebagai embung utama, sedangkan dua embung lainnya merupakan bantuan dari Dinas Pertanian yang berada di bagian atas dan bawah kawasan pertanian dengan jarak sekitar satu kilometer. Sistem embung memanfaatkan tampungan air hujan pada musim penghujan untuk digunakan sebagai sumber irigasi saat musim kemarau.

Baca Juga  Peringatan Penting dalam Khutbah Jumat Masjid Annur Pare: Tegakkan Iman dan Perbaiki Kualitas Sholat

Yayan mengatakan, salah satu embung telah dilengkapi sumur bor, sementara dua embung lainnya masih mengandalkan tampungan air hujan. Meski demikian, keberadaan ketiga embung tersebut dinilai mampu menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian di wilayah setempat.

“Dulu petani harus mengambil air dari daerah Siman dengan biaya angkut lebih dari Rp200 ribu sekali jalan. Dalam satu bulan pengeluaran untuk air bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp10 juta. Setelah ada embung, biaya itu bisa ditekan sehingga petani tetap bisa menanam meskipun musim kemarau,” jelasnya.

Pemerintah Desa Kebonrejo berharap keberadaan embung terus mendapat perhatian melalui pengembangan sarana pendukung, termasuk penambahan sumur bor dan peningkatan kapasitas tampungan air. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat posisi Desa Kebonrejo sebagai salah satu sentra produksi cabai unggulan di Kabupaten Kediri.

Jurnalis : Maulana Rahmadha

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *