
Tandaglobalnews KEDIRI — Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, berbagai ritual adat dan budaya mulai digelar di berbagai daerah. Salah satunya adalah tradisi Jamasan Pusaka yang menjadi bagian dari rangkaian acara Suran Agung ing Ndalem Dewobroto. Mengangkat tema “Angudi Luhuring Kabudhayan, Hamemayu Hayuning Bawono”, acara tahunan ini sukses digelar secara terbuka untuk umum di Pendopo Ndalem Dewobroto, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Kanjeng Raden Aryo Bumo Diwo Broto, selaku pendiri Perkumpulan Seni dan Budaya Ndalem Dewobroto sekaligus Pangarso (pimpinan) Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat di Kediri, menjelaskan bahwa tradisi jamasan yang telah memasuki tahun ke-10 ini rutin dilaksanakan setiap bulan Suro, tepat saat bulan purnama.
Merawat Warisan Leluhur dan Menampung Titipan Warga
Menurut penuturan Bumo Diwo Broto, pusaka utama yang dijamas merupakan keris-keris turun-temurun dari keluarga keturunan Raden Panji Diwobroto, yang memiliki garis silsilah kelima dari Pakubuwono III (PB 3) Keraton Surakarta.
Namun, tradisi ini tidak hanya eksklusif bagi keluarga keraton. Ndalem Dewobroto juga memfasilitasi warga sekitar yang ingin menjamaskan benda-benda yang mereka keramatkan.
”Kami tidak menutup kemungkinan bagi pusaka-pusaka dari lingkungan sekitar yang pemiliknya tidak mampu untuk menjamas sendiri. Di sini bukan hanya keris, ada juga tombak, barongan, jaranan, dan benda lain yang dianggap keramat oleh warga,” ungkapnya.

Filosofi Jamasan: Simbol Sangkan Paraning Dumadi
Bagi masyarakat Jawa, profesi dan ritual jamasan pusaka memiliki kedalaman lokal genius yang luar biasa. Bumo Diwo Broto menerangkan bahwa pusaka seperti keris terdiri dari dua bagian penting: Warangka (wadah) dan Bilah (keris).
Kedua bagian ini merupakan simbol penciptaan manusia atau bertemunya aspek maskulin dan feminin. Warangka disimbolkan sebagai ibu (padonan), sedangkan bilahnya sebagai bapak (planangan). Ketika bilah dimasukkan ke dalam warangkanya, hal itu menggambarkan wujud kehadiran manusia di dunia (jagat padang). Oleh karena itu, menjamas pusaka merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur yang telah menjadi perantara kehidupan kita.
Tahapan Ritual Jamasan Pusaka
Prosesi jamasan pusaka tidak serta-merta hanya membersihkan fisik benda, melainkan sebuah ritual yang sarat akan doa. Berikut adalah tahapan lengkapnya:
Penyucian (Pembersihan Fisik): Pusaka terlebih dahulu dibersihkan dari karat-karat (neyeng) yang menempel menggunakan bahan khusus hingga memutih kembali.
Pemandian: Setelah karat hilang, pusaka dimandikan secara bersih.
Jamasan Khusus (Pemberian Doa dan Wewangian): Pusaka dijamas dengan menyiapkan sesaji turun-temurun, termasuk bunga kembang telon dan kembang kiriman sebagai simbol pemberian keharuman. Di era modern, penggunaan minyak wangi juga ditambahkan agar pusaka tidak mengalami korosi di kemudian hari.
Pemberian Air Khusus: Pada malam harinya, dilakukan prosesi pemberian air kembang setaman yang telah didoakan, dicampur dengan sari tebu (simbol pengharapan hidup yang manis) serta dawet ayu yang gurih (simbol permohonan rezeki dan berkah yang gurih dari Gusti Yang Maha Kuasa).
Ungkapan Syukur dan Pengharapan di Tahun yang Baru
Melalui Suran Agung ini, paguyuban dan masyarakat bersama-sama mengucap syukur atas segala kesehatan, keselamatan, dan rezeki melimpah yang didapatkan pada tahun lalu (Tahun Dal). Berbarengan dengan pergantian tahun menuju Tahun Be, ritual ini juga diselimuti doa dan pengharapan baru.
”Selain bersyukur, kita juga menaruh harapan besar untuk tahun depan (Tahun Be). Moga-moga Gusti memberikan semua keluarga, panitia, dan penderes yang loyal di sini kesehatan, kewarasan, kecukupan rezeki, kemakmuran, hingga pangkat dan derajat,” pungkas Kanjeng Raden Aryo Bumo Diwo Broto.
Selain prosesi Jamasan Pusaka, acara Suran Agung yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB ini turut dimeriahkan oleh kesenian Jaranan, Kirab Gunungan Sajodo, serta pagelaran Sendratari dengan lakon “Banjaran Garudeya”.
Jurnalis : Fitri Rahayu