Konservasi Indonesia dan KKP Perkuat Perlindungan Laut Lewat Skema Pendanaan Inovatif

Penandatanganan kerja sama antara KKP dan Konservasi Indonesia pada Hari Laut Sedunia 2026 di Bali untuk memperkuat konservasi laut nasional. (dok : mongabay)

Tandaglobalnews – Konservasi Indonesia (KI) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan untuk memperkuat upaya pelestarian ekosistem laut Indonesia. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bertepatan dengan peringatan Hari Laut Sedunia 2026 di Nusa Dua, Bali.

Kolaborasi yang akan berlangsung selama lima tahun itu difokuskan pada penguatan perlindungan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, penanganan degradasi ekosistem laut, serta pengembangan berbagai instrumen pendanaan inovatif guna mendukung program konservasi di tingkat daerah.

Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah penyempurnaan program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA) atau skema pengalihan utang untuk konservasi terumbu karang, serta pengelolaan Blue Abadi Fund (BAF). Kedua skema tersebut diharapkan dapat membantu menutup kesenjangan anggaran yang selama ini menjadi tantangan dalam pengelolaan kawasan laut dan pesisir.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pendanaan, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan keterlibatan masyarakat yang hidup di kawasan pesisir.

Menurutnya, berbagai hasil ekspedisi ilmiah menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas manusia semakin nyata sehingga dibutuhkan pengelolaan yang terintegrasi dan berbasis data ilmiah.

“Data sains yang dihasilkan para peneliti diharapkan dapat melengkapi kebutuhan informasi bagi para pengelola kawasan sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih tepat dan efektif,” ujar Meizani.

Ia menambahkan bahwa laut merupakan satu kesatuan ekologi yang melampaui batas administrasi wilayah. Oleh karena itu, efektivitas perlindungan kawasan laut sangat ditentukan oleh kompetensi pengelola serta keterlibatan masyarakat setempat.

“Melalui kerja sama ini, kita ingin memastikan manfaat konservasi benar-benar dirasakan masyarakat pesisir, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut dan spesies yang dilindungi dari ancaman degradasi,” katanya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Konservasi Indonesia menjadi langkah penting dalam mendorong pengelolaan kelautan yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis sains, inovasi, dan kemitraan multipihak.

Menurutnya, luasnya wilayah laut Indonesia menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari dampak perubahan iklim hingga tekanan terhadap sumber daya kelautan. Karena itu, dibutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut nasional.

Koswara menjelaskan bahwa kerja sama ini juga akan mendorong pengembangan instrumen pendanaan baru, seperti Blue Halo S dan Manta Impact Bond, yang dirancang untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi, perlindungan spesies laut yang terancam punah, serta pengembangan program karbon biru di sektor kelautan.

“Harapannya, berbagai upaya ini dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata serta berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Dalam implementasinya, ruang lingkup kerja sama mencakup perluasan kawasan konservasi laut dan kawasan berdampak konservasi atau Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) di sejumlah wilayah prioritas Indonesia.

Wilayah tersebut meliputi Nias di Sumatra Utara, Bintan di Kepulauan Riau, Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat, Belu dan Sumba di Nusa Tenggara Timur, Wetar dan Morotai di Maluku, Raja Ampat di Papua Barat Daya, Fakfak dan Kaimana di Papua Barat, hingga Biak-Supiori di Papua.

Selain penandatanganan kerja sama, peringatan Hari Laut Sedunia 2026 juga diisi dengan berbagai lokakarya yang membahas pengelolaan laut berbasis masyarakat. Forum tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, dan komunitas pesisir untuk memperkuat sinergi dalam perlindungan ekosistem karbon biru dan pengelolaan perdagangan karbon sektor kelautan.

Peran masyarakat juga menjadi sorotan utama dalam kegiatan tersebut. Salah satunya ditunjukkan oleh kelompok pembudidaya rumput laut di Desa Manandang Kaliuda, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Melalui kolaborasi dengan Konservasi Indonesia, masyarakat setempat berhasil mengembangkan pembibitan rumput laut berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga mendukung pelestarian ekosistem pesisir dan terumbu karang.

Perwakilan BUMDes Manandang Kaliuda, Christiani Valentine, mengatakan program tersebut telah meningkatkan kapasitas budidaya petani secara signifikan.

“Pembibitan rumput laut berkelanjutan di Pantai Lendunga berhasil meningkatkan kapasitas budidaya petani dari semula hanya memiliki lima tali bibit menjadi 185 tali yang siap panen,” jelasnya.

Kegiatan Hari Laut Sedunia juga menghadirkan Youth Ocean Jamboree, program yang digagas Konservasi Indonesia bersama Conservation International Timor-Leste. Program ini menjadi wadah bagi generasi muda lintas negara untuk memperkuat kapasitas dan berbagi pengalaman dalam upaya pelestarian laut.

Salah satu peserta asal Timor-Leste, Giorgina Soares, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya belajar langsung teknik ilmiah untuk memantau biota laut seperti hiu dan pari. Pengetahuan ini akan saya bagikan kepada teman-teman di negara saya agar semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap kelestarian laut,” ujarnya.

Melalui berbagai kolaborasi tersebut, pemerintah dan mitra konservasi berharap pengelolaan laut Indonesia dapat semakin kuat, berkelanjutan, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir di masa depan.

Jurnalis : Novita sari

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *