Kasus HIV di Kabupaten Kediri Terus Meningkat, Dinkes Catat 121 Kasus di Pertengahan Tahun 2026

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Bambang Triyono Putro, menjelaskan perkembangan kasus HIV serta upaya pencegahan yang terus dilakukan melalui edukasi, skrining, dan pendampingan kelompok rentan.
Foto: istimewa

Tandaglobalnews KEDIRI – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mencatat sebanyak 121 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang pertengahan tahun 2026 ini. Angka tersebut menambah tren peningkatan kasus yang terjadi dalam lima tahun terakhir.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Bambang Triyono Putro, mengatakan peningkatan kasus HIV masih didominasi oleh perilaku seksual berisiko yang tidak aman.

“Kalau melihat tren lima tahun terakhir, kasus HIV memang terus meningkat. Salah satu penyebab utamanya adalah perilaku seksual yang tidak aman,” ujar Bambang.

Menurutnya, pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, khususnya kalangan remaja dan pelajar, hingga pelaksanaan skrining pada kelompok dengan risiko tinggi tertular HIV.

Dinas Kesehatan juga menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk melakukan penjangkauan terhadap komunitas rentan. Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala karena tingginya mobilitas kelompok sasaran dan rendahnya kepatuhan dalam menjalankan langkah-langkah pencegahan.

“Kami bermitra dengan LSM untuk melakukan penjangkauan dan skrining. Namun tidak semua sasaran bisa diperiksa karena mobilitas mereka cukup tinggi. Selain itu, kepatuhan terhadap upaya pencegahan juga masih rendah,” jelasnya.

Bambang menegaskan, HIV menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu, seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, dan air susu ibu (ASI). Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita HIV, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.

Sebaliknya, HIV tidak menular melalui sentuhan, berjabat tangan, berpelukan, berbagi alat makan, menggunakan toilet bersama, maupun gigitan nyamuk.

Kelompok yang dinilai lebih rentan terhadap penularan HIV antara lain individu yang melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan tanpa pengaman, pasangan dari penderita HIV, pengguna narkotika suntik yang berbagi jarum, pekerja seks dan pelanggannya, serta bayi yang lahir dari ibu dengan HIV tanpa penanganan medis yang memadai.

Berita Terkait  Dukung Ketahanan Pangan, Polisi Kediri Dampingi Petani Bengkoang Hadapi Musim Kering

Meski jumlah kasus terus bertambah, Bambang menyebut angka kematian akibat HIV di Kabupaten Kediri masih relatif rendah jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan kasus yang ditemukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak penderita yang berhasil terdeteksi lebih awal dan mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak menganggap remeh penyakit tersebut. HIV yang tidak terdeteksi dan tidak diobati dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan berat sehingga penderita rentan terserang berbagai infeksi dan penyakit serius.

“Kami mengimbau masyarakat memahami cara penularan HIV dan menghindari perilaku berisiko. Deteksi dini sangat penting agar penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan kualitas hidupnya tetap terjaga,” pungkasnya.

Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *