
TandaGlobalNews INDIA – Sebuah fenomena memprihatinkan terungkap di Distrik Beed, Negara Bagian Maharashtra, India. Ribuan buruh perempuan pemotong tebu dilaporkan menjalani operasi pengangkatan rahim (histerektomi) dalam beberapa tahun terakhir, diduga akibat tekanan pekerjaan yang berat selama musim panen.
Berdasarkan data pemerintah India pada 2019, lebih dari 13.000 perempuan di wilayah tersebut telah menjalani prosedur pengangkatan rahim. Kasus ini menarik perhatian publik karena banyak di antara mereka disebut tidak menjalani operasi akibat kondisi medis yang serius, melainkan karena tuntutan pekerjaan.
Para buruh tebu umumnya bekerja dengan sistem upah berdasarkan hasil panen. Dalam kondisi tersebut, menstruasi sering dianggap menghambat produktivitas karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan mengurangi kemampuan bekerja dalam waktu yang panjang. Ketidakhadiran saat bekerja juga berpotensi mengurangi pendapatan yang mereka terima.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa sebagian perempuan memilih menjalani operasi agar tidak lagi mengalami menstruasi dan dapat terus bekerja tanpa gangguan selama musim panen. Keputusan tersebut disebut dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, kondisi kerja yang berat, serta minimnya perlindungan bagi pekerja perempuan.
Kasus ini memicu perdebatan luas mengenai hak-hak pekerja perempuan, akses layanan kesehatan, dan kondisi kerja di sektor pertanian India. Berbagai organisasi sosial dan aktivis hak perempuan mendesak adanya perbaikan sistem ketenagakerjaan agar pekerja tidak merasa harus mengambil keputusan medis yang drastis demi mempertahankan penghasilan mereka.
Fenomena di Beed menjadi sorotan karena dianggap mencerminkan tantangan yang masih dihadapi banyak perempuan pekerja di sektor informal, khususnya mereka yang bergantung pada pekerjaan musiman untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.