
Tandalobalnews JAKARTA – Praktik pengaruh politik asing yang selama ini kental mewarnai pesta demokrasi di Amerika Serikat, ternyata kini merambah hingga ke jantung Eropa. Prancis, salah satu negara pentolan utama Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dikabarkan mulai merasakan hal serupa, di mana proses pemilihan umumnya disusupi oleh kepentingan yang berpusat pada Israel.
Di Amerika Serikat, praktik ini sudah bukan rahasia lagi. Sudah lama dikenal adanya organisasi bernama Komite Urusan Publik Amerika Israel atau American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Organisasi ini secara terbuka mengumpulkan dana dalam jumlah sangat besar dari para pengusaha dan taipan keturunan Yahudi, yang kemudian digunakan untuk membiayai serta mendukung para calon pemimpin, termasuk calon presiden AS. Tujuannya satu: memastikan orang yang terpilih nantinya akan membela mati-matian segala kepentingan Israel, apa pun yang terjadi.
Namun belakangan ini, fenomena serupa dikabarkan mulai merambah ke Prancis. Sejumlah media massa di Prancis ramai-ramai memberitakan dugaan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Israel mulai menyusupi jalannya pemilihan umum di negeri tersebut, sebagaimana dikutip dari laporan Middle East Monitor.
Cara yang dilakukan pun dinilai jauh lebih agresif dan berbahaya. Tidak hanya sebatas mendanai serta mendukung calon-calon pemimpin yang dinilai akan berpihak pada Israel, para pelobi dan kekuatan yang diduga terkait dengan Israel ini juga dikabarkan melancarkan serangan fitnah terorganisir secara sistematis. Sasaran utamanya adalah para kandidat kepala daerah, termasuk calon wali kota, yang dikenal memiliki pandangan berbeda—terutama mereka yang vokal menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Serangan kotor ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan gencar dilancarkan melalui ruang siber. Mulai dari penyebaran berita bohong, pencemaran nama baik, hingga melakukan gangguan teknis terhadap sistem layanan digital guna menjatuhkan elektabilitas lawan politik.
Lebih terperinci lagi, kantor berita Reuters mengungkapkan bahwa pada awal bulan Juni 2026 ini, pihak berwenang Prancis sedang gencar melakukan penyelidikan mendalam. Mereka tengah memeriksa dugaan adanya kampanye fitnah yang ditujukan kepada tiga calon wali kota dari partai sayap kiri yang sangat vokal mendukung Palestina, yaitu Prancis Tak Terkalahkan atau La France Insoumise (LFI). Serangan ini terjadi tepat menjelang digelarnya pemilihan kepala daerah tingkat kota pada Maret lalu, dan diduga kuat dilakukan oleh sebuah perusahaan asal Israel yang tidak banyak dikenal publik bernama BlackCore.
Kasus ini pertama kali terungkap ke permukaan berkat laporan harian ternama Prancis, Le Monde, yang dimuat pada Maret silam. Saat itu, Viginum—sebuah lembaga resmi khusus di bawah naungan Kantor Perdana Menteri Prancis yang bertugas mendeteksi segala bentuk gangguan terhadap sistem digital negara—mengeluarkan pernyataan resmi. Lembaga ini mengonfirmasi telah menemukan adanya skema “gangguan digital yang berasal dari luar negeri”. Kendati jangkauannya dinilai terbatas, namun serangan ini sangat terarah dan spesifik, yang secara khusus menargetkan partai politik serta para kandidatnya di tiga kota strategis sekaligus, yakni Marseille, Toulouse, dan Roubaix.
Fakta ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan pengamat politik dunia. Jika negara sekuat dan seterkenal Prancis saja, yang memiliki standar demokrasi tinggi dan merupakan kekuatan militer utama NATO, ternyata tak luput dari campur tangan kekuatan asing, maka pertanyaan besar pun muncul: Apakah masih ada tempat di dunia ini di mana pesta demokrasi berlangsung murni, bersih, dan sepenuhnya bebas dari kepentingan pihak.