Siap Ubah Medan Perang, AS Siap Luncurkan F-47

JAKARTA, Tandaglobalnews — Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan terus mempercepat pengembangan jet tempur siluman generasi keenam terbarunya, Boeing F-47, yang dikembangkan di bawah program Next Generation Air Dominance (NGAD). Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap masifnya modernisasi kekuatan udara global, khususnya program pesawat siluman Tiongkok.

Guna memastikan proyek ini berjalan sesuai garis waktu, Pentagon dilaporkan telah mengajukan lonjakan anggaran yang signifikan untuk Tahun Fiskal 2027 sebesar USD 5,03 miliar (sekitar Rp81,7 triliun). Alokasi masif ini menandai keseriusan Washington setelah program ini sempat mengalami penundaan (pause) akibat evaluasi biaya.

Latar Belakang dan Kontrak Boeing

Program NGAD awalnya dirancang untuk mencari penerus jet tempur superioritas udara F-22 Raptor yang sudah mulai menua. Setelah melalui fase evaluasi ketat terkait efisiensi biaya dan konsep operasi, arah baru proyek ini dikonfirmasi secara resmi oleh Presiden Donald Trump, yang mengumumkan bahwa kontrak pengembangan teknik dan manufaktur (EMD) bernilai lebih dari USD 20 miliar dimenangkan oleh Boeing.

Pesawat ini secara resmi mengusung kode F-47, dan sebuah bocoran konsep desain dari System Management Office Angkatan Udara AS (USAF) mengindikasikan bahwa jet tempur masa depan ini kemungkinan besar akan diberi nama resmi “Phoenix”.

Spesifikasi dan Doktrin Desain Broadband Stealth

Berbeda dengan jet tempur generasi kelima seperti F-35 yang berfokus pada pertempuran multi-peran jarak menengah, F-47 dirancang khusus sebagai sensor-shooter jarak jauh bersorotan radar sangat rendah.

Meskipun detail teknis spesifiknya masih sangat dirahasiakan, informasi cetak biru dan infografis resmi dari Angkatan Udara AS membeberkan beberapa kemampuan kunci:

  • Radius Tempur Jauh: F-47 dirancang memiliki radius tempur (combat radius) melebihi 1.000 mil laut (sekitar 1.850 km). Jangkauan ekstrem ini disiapkan khusus untuk menghadapi luasnya wilayah teater operasi Indo-Pasifik tanpa terlalu bergantung pada pesawat tanker penyuplai bahan bakar di area rawan.
  • Kecepatan Super: Didukung teknologi mesin siklus adaptif (adaptive-cycle propulsion) generasi terbaru dari pabrikan mesin AS, F-47 mampu melesat dengan kecepatan di atas Mach 2.
  • Broadband Stealth: Desain badan pesawat dioptimalkan untuk meminimalkan deteksi bukan hanya pada radar pencari standar, melainkan juga radar frekuensi rendah, sensor inframerah, hingga sistem pelacak elektronik modern.

Catatan Desain: Terkait spekulasi penggunaan canard (sayap depan), para analis kedirgantaraan menilai doktrin siluman AS umumnya menghindari struktur tersebut karena potensi memantulkan gelombang radar. F-47 diperkirakan mengadopsi desain sayap menyatu (blended wing-body) yang radikal tanpa sirip vertikal konvensional demi mencapai tingkat kamuflase radar yang sempurna.

Ekosistem Tempur: Terintegrasi dengan Drone Mandiri

F-47 tidak akan bertempur sendirian. Jet tempur berawak ini bertindak sebagai “otak pusat” di udara yang mengomandani jaringan tempur terpadu.

Dalam operasionalnya, setiap satu unit F-47 akan dikawal oleh beberapa unit drone tempur otonom yang disebut Collaborative Combat Aircraft (CCA) atau Loyal Wingman. Drone-drone pendamping ini bertugas membawa persenjataan tambahan, melakukan pengintaian di garis depan, atau bahkan menjadi umpan untuk mengacaukan sistem pertahanan udara musuh.

Tantangan Biaya dan “Jembatan Taktis” Angkatan Udara

Kendati pengembangannya dikebut, tantangan terbesar program F-47 terletak pada tingginya biaya per unit yang sempat diperkirakan mencapai tiga kali lipat harga sebuah F-35. Angkatan Udara AS sejauh ini memproyeksikan pembelian minimal sekitar 185 hingga 200 unit F-47 yang ditargetkan mulai operasional secara bertahap pada dekade 2030-an.

Karena jet generasi keenam ini baru siap beroperasi penuh dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, Angkatan Udar AS menyatakan akan tetap mempertahankan dan memodernisasi armada F-22 Raptor serta F/A-18 milik Angkatan Laut sebagai “jembatan taktis” untuk menjaga supremasi udara barat sebelum F-47 “Phoenix” resmi mengambil alih takhta udara sepenuhnya.

administrator

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *