
KEDIRI, TandaGlobal.news — Perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan bahan bakar rumah tangga membuat penjualan minyak tanah keliling semakin sepi. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Kasim (86), penjual minyak tanah di kawasan Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, yang telah menjalani pekerjaan tersebut sejak 1971, Jumat (18/9/2026).
Selama lebih dari lima dekade berjualan, Kasim merasakan perubahan besar dalam jumlah pembeli.
Jika dahulu minyak tanah menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari, kini sebagian besar warga telah beralih menggunakan kompor gas.
Kasim mengenang masa ketika penjualan minyak tanah masih ramai.
Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 50 hingga 60 liter. Pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan rumah tangga, tetapi juga sopir truk yang terkadang membeli minyak tanah dalam jumlah banyak.
“Dulu jauh lebih ramai. Sehari bisa sampai 50 atau 60 liter. Sopir truk juga sering membeli banyak, ada yang sampai 50 liter,” kenang Kasim.
Menurut Kasim, kondisi tersebut terjadi ketika penggunaan kompor gas belum sebanyak sekarang.
Pada masa itu, minyak tanah masih menjadi salah satu bahan bakar yang banyak digunakan masyarakat sehingga permintaannya relatif tinggi.
Namun, kondisi tersebut berubah seiring masyarakat mulai beralih menggunakan kompor gas.
Jumlah warga yang membutuhkan minyak tanah semakin berkurang sehingga penjualan Kasim ikut terdampak.
Kasim menyebut dirinya kini menjadi salah satu dari sedikit penjual yang masih berkeliling menawarkan minyak tanah di sekitar wilayah Pesantren.
Meski jumlah penjual semakin sedikit, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat pembeli kembali ramai.
“Sekarang orang kebanyakan sudah memakai gas. Penjual seperti saya juga sudah jarang, tetapi pembelinya memang semakin sedikit,” katanya.
Setiap hari, Kasim biasanya membawa sekitar lima liter minyak tanah untuk dijual.
Jumlah tersebut disesuaikan dengan kemampuan modal yang dimilikinya.
Ia mengambil stok dari agen atau teman lama di kawasan sebelah utara SMP 3, kemudian membawa minyak tersebut berkeliling.
Minyak tanah tersebut dijual Kasim dengan harga sekitar Rp16 ribu per liter.
Namun, jumlah yang terjual setiap hari tidak menentu karena permintaan masyarakat semakin terbatas.
“Kadang laku, kadang tidak. Pernah juga tidak ada yang membeli sama sekali dalam sehari,” ujarnya.
Meski menghadapi penurunan permintaan, Kasim tetap menjalani pekerjaannya.
Pada usia 86 tahun, ia masih memilih beraktivitas sejak pagi dan berkeliling menawarkan dagangan daripada hanya berdiam diri di rumah.
Bagi Kasim, berjualan tidak semata-mata mengenai jumlah minyak tanah yang berhasil terjual.
Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk tetap bergerak, produktif, dan berinteraksi dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
Kisah Kasim memperlihatkan perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan bahan bakar rumah tangga dari masa ke masa.
Pekerjaan yang dahulu mampu menghasilkan penjualan hingga puluhan liter setiap hari kini harus dijalani di tengah semakin terbatasnya permintaan minyak tanah.




















Tinggalkan Balasan