Sementara itu, pedagang lainnya, Yunus, menilai persoalan parkir tidak dapat dipisahkan dari kondisi jumlah pengunjung Pasar Bandar yang menurutnya telah mengalami penurunan cukup besar.

Ia menyebut, bahkan ketika sistem pengawasan dan parkir masih dilakukan secara manual, jumlah pengunjung disebut hanya tersisa sekitar 30–35 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Kalau sebelumnya saja pengunjung sudah turun drastis, jangan sampai dengan adanya portal atau aturan yang semakin ketat justru membuat orang semakin malas masuk ke pasar,” kata Yunus.

Yunus juga menyoroti akses jalan di dalam kawasan pasar yang sebelumnya banyak dilalui masyarakat.

Menurutnya, orang yang awalnya hanya melintas tidak jarang akhirnya berhenti dan membeli sesuatu dari pedagang.

Dengan adanya pembatasan akses, peluang tersebut dinilai ikut hilang.

Pedagang pun berharap pengelola tidak hanya mempertimbangkan aspek penataan dan target pendapatan parkir, tetapi juga melihat kondisi nyata perdagangan di dalam pasar.

“Yang kami harapkan bagaimana pasar ini bisa kembali ramai. Jangan sampai pengaturan akses justru membuat pembeli semakin sulit masuk. Kondisi pedagang juga perlu diperhatikan,” ujarnya.

Para pedagang berharap kebijakan parkir nantinya dapat mempertimbangkan kemudahan akses, kenyamanan pengunjung, serta kondisi perdagangan.

Menurut mereka, sistem parkir yang tertib tetap diperlukan, namun jangan sampai menjadi penghalang bagi masyarakat yang hendak berbelanja di Pasar Bandar.