KEDIRI, Tandaglobal.news — Usaha kedai dimsum di Pasar Bandar, Kota Kediri, tepatnya di lantai 2, masih berupaya mempertahankan eksistensinya setelah berjalan sekitar tiga tahun. Di tengah semakin banyaknya kedai dan kafe yang menawarkan menu serupa, penjualan dimsum tersebut belakangan mengalami penurunan.

Staf kedai, Al Hanafi, mengatakan usaha tersebut mulai berjalan sekitar September–Oktober 2023. Sejak awal berdiri, target utama konsumennya adalah kalangan anak muda.

Usaha tersebut memiliki latar belakang dari Yogyakarta. Pusat usahanya pertama kali berdiri di Pasar Cendradiningratan, sehingga konsep berjualan di lingkungan pasar kemudian turut diterapkan ketika membuka usaha di Kediri.

Bahkan, kedai tersebut disebut menjadi salah satu pelopor kedai dimsum yang hadir di Kota Kediri. Selain di Kediri, usaha yang sama juga telah memiliki cabang di Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.

“Usaha ini sudah berjalan sekitar tiga tahun. Dulu sempat sangat ramai, tetapi belakangan memang ada penurunan. Target utama kami sebenarnya anak muda,” ujar Al Hanafi, Senin (7/9/2026).

Kedai tersebut buka setiap hari dengan sistem open order mulai pukul 08.00 WIB hingga close order sekitar pukul 21.00 WIB. Selain melayani pembelian langsung, pelanggan juga dapat memesan melalui layanan daring seperti GrabFood dan GoFood.

Menu utama yang ditawarkan tentu saja dimsum. Untuk menambah pilihan, tersedia pula bakpao, minuman, serta inovasi dimsum goreng.

Konsumen dapat memilih enam varian topping, yakni kepiting, wortel, jamur, lobster, udang, dan daging asap. Pilihan pelanggan pun cukup beragam. Sebagian memilih varian berbahan sayuran atau non-seafood, sementara lainnya lebih menyukai rasa udang dan lobster.

Harga dimsum dipatok seragam Rp3.000 per potong, dengan ketentuan pembelian minimal tiga potong. Sementara itu, untuk bakpao tidak diberlakukan batas minimal pembelian.

Dalam perjalanan usahanya, kedai dimsum tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah persaingan yang semakin ketat seiring bermunculannya kafe dan kedai baru yang juga menyediakan menu dimsum.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus terus menjaga kualitas makanan sekaligus mempertahankan minat pelanggan, khususnya dari kalangan anak muda yang menjadi pasar utama.

Selain persaingan usaha, kondisi lingkungan pasar juga turut menjadi perhatian. Salah satunya berkaitan dengan sistem parkir yang dinilai dapat memengaruhi jumlah pengunjung, terutama konsumen yang hanya ingin membeli makanan untuk dibawa pulang.

Menurut Al Hanafi, pembeli takeaway biasanya membutuhkan proses yang cepat. Ketika akses parkir menjadi lebih rumit, hal tersebut dikhawatirkan membuat sebagian calon pelanggan memilih tidak mampir.

“Kalau untuk pembeli yang hanya ingin takeaway, akses parkir itu cukup berpengaruh. Mereka biasanya ingin cepat datang, membeli, kemudian langsung pergi. Kalau sistemnya semakin rumit, tentu bisa memengaruhi minat pembeli,” jelasnya.