JAKARTA, Tandaglobal.news — Dimsum menjadi salah satu makanan yang semakin mudah ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Bentuknya yang kecil, pilihan isi yang beragam, serta penyajiannya yang praktis membuat makanan ini menarik bagi banyak anak muda.

Tidak hanya hadir di restoran khusus, dimsum kini juga sering dijual sebagai camilan, menu makan bersama, hingga makanan beku yang dapat dimasak di rumah.

Apa Itu Dimsum?

Dimsum merupakan kelompok makanan kecil dalam tradisi kuliner Tiongkok yang sangat berkaitan dengan tradisi Kanton atau Guangdong. Dimsum mencakup beragam hidangan dan tidak hanya berupa pangsit kukus.

Dalam tradisinya, dimsum berkaitan erat dengan kegiatan yum cha, yaitu menikmati teh bersama berbagai makanan berukuran kecil. Istilah dim sum sering diterjemahkan sebagai “menyentuh hati”.

Jenisnya sangat beragam, mulai dari siomai, hakau, dumpling, bakpao, ceker ayam, hingga berbagai kue dan makanan kecil lainnya.

Asal-usul Dimsum

Sejarah dimsum berkaitan erat dengan budaya minum teh di wilayah Tiongkok bagian selatan. Makanan berukuran kecil tersebut berkembang sebagai pendamping teh dan kemudian menjadi bagian dari tradisi bersantap.

Hong Kong kemudian menjadi salah satu pusat penting perkembangan budaya dimsum. Tradisi menikmati dimsum bersama teh dikenal sebagai yum cha.

Seiring perpindahan masyarakat Tionghoa ke berbagai negara, makanan ini ikut menyebar ke berbagai belahan dunia. Variasi dimsum kemudian berkembang sesuai dengan bahan, selera, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Mengapa Dimsum Digemari Gen Z?

Popularitas dimsum di kalangan anak muda tidak lepas dari karakter makanan tersebut yang mudah disesuaikan dengan gaya makan masa kini.

Dimsum umumnya hadir dalam ukuran kecil sehingga mudah disantap sebagai camilan maupun bagian dari makanan bersama.

Satu tempat makan dapat menyediakan berbagai jenis dimsum dengan isian dan teknik memasak yang berbeda. Konsumen pun dapat mencoba beberapa jenis sekaligus.

Porsi kecil membuat dimsum mudah dibagikan. Konsep makanan kecil untuk dinikmati bersama juga telah menjadi bagian dari tradisi dimsum.

Dimsum dapat dibuat dalam berbagai variasi, mulai dari isian ayam, udang, dan sayuran hingga versi dengan saus serta pelengkap yang disesuaikan dengan selera lokal.

Bentuk siomai, hakau, dan dumpling yang rapi membuat dimsum cukup menarik untuk disajikan dalam foto maupun video kuliner. Faktor visual ini turut mendukung popularitas makanan di kalangan pengguna media sosial.

Resep Dimsum Ayam Sederhana

Jika ingin membuat sendiri di rumah, salah satu pilihan yang relatif sederhana adalah dimsum ayam kukus.

Bahan

  • 250 gram daging ayam tanpa tulang
  • 100 gram udang kupas, cincang halus
  • 2 siung bawang putih
  • 1 batang daun bawang
  • 1 buah wortel, parut
  • 1 sendok makan tepung tapioka
  • 1 sendok makan saus tiram
  • 1 sendok teh minyak wijen
  • ½ sendok teh merica
  • Garam secukupnya
  • Kulit pangsit secukupnya

Cara Membuat

1. Siapkan bahan

Cincang atau haluskan daging ayam dan udang. Jangan terlalu lembut agar tekstur isi tetap terasa.

2. Campurkan adonan

Masukkan ayam, udang, bawang putih, daun bawang, tepung tapioka, saus tiram, minyak wijen, merica, dan garam ke dalam wadah. Aduk hingga seluruh bahan tercampur rata.

3. Siapkan kulit

Letakkan satu lembar kulit pangsit di telapak tangan. Berikan sekitar satu sendok makan adonan di bagian tengah.

4. Bentuk dimsum

Lipat dan rapikan kulit di sekeliling adonan hingga membentuk dimsum. Tambahkan sedikit wortel parut di bagian atas sebagai pelengkap.

5. Kukus

Susun dimsum dalam kukusan yang telah dipanaskan. Kukus hingga bagian isi matang dan kulit menjadi lebih lembut.

6. Sajikan

Dimsum dapat disantap selagi hangat bersama saus sambal, saus cabai, atau saus pendamping sesuai selera.

Dimsum dan Perkembangan Kuliner Modern

Popularitas dimsum menunjukkan bagaimana makanan tradisional dapat terus berkembang ketika bertemu dengan selera generasi baru. Bentuknya yang kecil membuat konsumen dapat mencoba banyak jenis dalam satu kesempatan, sementara variasi isi memberikan ruang untuk melakukan inovasi.

Di Indonesia, dimsum juga telah mengalami penyesuaian. Selain menggunakan bahan yang umum dalam tradisi Kanton, sejumlah penjual menghadirkan variasi dengan bahan dan saus yang lebih sesuai dengan selera lokal.

Meski mengalami banyak inovasi, dimsum tetap memiliki hubungan kuat dengan budaya yum cha dan tradisi makanan kecil dalam kuliner Kanton. Karena itu, menikmati dimsum bukan hanya soal mencicipi makanan, tetapi juga mengenal perjalanan sebuah tradisi kuliner yang telah berkembang lintas negara.