Terlebih, menurut dia, sejumlah kegiatan yang mengiringi parade sound horeg juga perlu mendapat perhatian, termasuk keberadaan penari atau dancer dengan pakaian yang dinilai kurang pantas ketika disaksikan anak-anak.

“Kita ini ormas keagamaan, yang pasti sudut pandangnya dari hukum Islam. Terkait yang suka terhadap sound horeg, jangan lupa juga tidak sedikit yang merasa terganggu dan tidak nyaman. Bukan masalah suka dan tidak suka, tetapi harus melihat berbagai dampak,” tuturnya.

Ia juga menyoroti aspek kesehatan.

Menurutnya, penggunaan sound dengan tingkat kebisingan tinggi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

“Tinjauan kesehatan juga tidak merekomendasikan,” imbuhnya.

Karena itu, Muhammadiyah Kabupaten Kediri meminta pemerintah daerah bersama dinas terkait untuk membuat batasan yang jelas terhadap penggunaan sound horeg, terutama menyangkut tingkat suara dan waktu pelaksanaan.

Menurut Ikhwan, kegiatan tidak seharusnya berlangsung hingga larut malam, apalagi sampai dini hari, karena berpotensi mengganggu masyarakat sekitar.

“Menurut kami harus ada batasan sound dan waktunya. Jangan sampai tengah malam bahkan sampai pagi. Dan yang penting jangan sampai acara sound horeg itu jadi tempat kemaksiatan,” tegasnya.

Tiga Orang Meninggal dalam Insiden Terkait Sound Horeg

Sorotan terhadap sound horeg semakin menguat setelah sepanjang Agustus 2026 tercatat sedikitnya tiga orang meninggal dunia dalam sejumlah insiden yang berkaitan dengan parade atau kegiatan sound horeg di Jawa Timur.

Korban pertama adalah SN (29), seorang kru sound horeg di Jember.

Ia meninggal pada 2 Agustus 2026 setelah diduga terbentur gapura saat berada di atas truk pengangkut perangkat sound yang melintas di Desa Candijati, Kecamatan Arjasa.

Saat itu, rombongan diketahui baru pulang setelah mengikuti karnaval.

Korban kedua adalah Bonari, warga Kabupaten Banyuwangi, yang meninggal saat mengikuti parade sound horeg pada 23 Agustus 2026.

Ia dilaporkan tiba-tiba oleng dan terjatuh ketika mengikuti rombongan karnaval.

Polisi menyebut kondisi kesehatannya menurun saat mengikuti kegiatan tersebut.

Sementara korban ketiga adalah Slamet Timbang (57), warga Jember, yang meninggal setelah tertimpa kanopi dan bagian tembok sebuah apotek ketika parade sound horeg melintas pada 29 Agustus 2026.

Polisi masih melakukan penyelidikan terkait hubungan langsung antara getaran sound horeg dengan runtuhnya bangunan tersebut.