ASAHAN, TandaGlobalNews — Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Silau merupakan salah satu unit pengolahan kelapa sawit yang memiliki sejarah panjang di Sumatera Utara. Pabrik ini berada di kawasan perkebunan Sei Silau, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, dan berkembang menjadi salah satu fasilitas pengolahan kelapa sawit penting dalam jaringan perkebunan PTPN.
Sejarah fasilitas tersebut bermula pada dekade 1970-an, ketika pembangunan pabrik dilakukan untuk mengolah tandan buah segar (TBS) dari perkebunan di sekitarnya.
Dibangun pada 1976–1978
PKS Sei Silau mulai dibangun pada 1976 dan proses pembangunannya berlangsung hingga 1978.
Pada tahap awal, pabrik dirancang dengan kapasitas pengolahan 30 ton TBS per jam. Sumber bahan bakunya berasal dari sejumlah kebun kelapa sawit di wilayah Asahan serta kebun plasma dan pembelian TBS masyarakat.
Pembangunan tersebut menjadi bagian dari pengembangan industri pengolahan kelapa sawit di Sumatera Utara.
Kapasitas Ditambah pada 1981
Pertumbuhan produksi kelapa sawit membuat kapasitas awal pabrik tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan.
Pada 1981, kapasitas PKS Sei Silau ditingkatkan dari 30 ton menjadi 45 ton TBS per jam. Pekerjaan peningkatan kapasitas dilakukan oleh PT Hari Subur & Sons dan PT Sumatra Raya Sari.
Peningkatan tersebut memungkinkan pabrik mengolah volume TBS yang lebih besar dari kebun-kebun pemasok.
Menjadi 60 Ton TBS per Jam pada 1986
Lima tahun kemudian, pengembangan kembali dilakukan.
Pada 1986, kapasitas PKS Sei Silau ditingkatkan menjadi 60 ton TBS per jam. Pekerjaan tersebut melibatkan PT Kesco Teguh Perkasa, PT Dirga Brata Sena dan PT Super Andalas Steel.
Kapasitas 60 ton per jam kemudian menjadi kapasitas yang tercatat dalam berbagai dokumen mengenai PKS Sei Silau.
Data PTPN III juga mencatat Sei Silau dengan kapasitas 60 ton TBS per jam.
Mengolah TBS Menjadi CPO dan Inti Sawit
Sebagai pabrik kelapa sawit, PKS Sei Silau mengolah TBS menjadi produk utama berupa Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) atau inti sawit.
Proses tersebut meliputi penerimaan TBS, perebusan, pemipilan, pengepresan dan pemisahan minyak dari bagian lain buah kelapa sawit.
Minyak sawit mentah kemudian menjadi bahan baku untuk berbagai industri hilir, sedangkan inti sawit dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan minyak inti sawit.
Terhubung dengan Jaringan Perkebunan
PKS Sei Silau tidak berdiri sendiri dalam sistem produksi kelapa sawit.
Data operasional yang tersedia menunjukkan pabrik menerima TBS dari sejumlah kebun pemasok. Di antaranya Kebun Sei Silau, Pulau Mandi, Ambalutu, Huta Dadap, Sei Dadap, Bandar Selamat dan Sei Kopas. Selain kebun sendiri, terdapat pula TBS dari kebun plasma serta pembelian dari masyarakat sekitar.
Model tersebut memperlihatkan hubungan antara perkebunan inti, plasma dan pemasok TBS dalam sistem industri kelapa sawit.
Bagian dari PTPN III
Sejarah kelembagaan PKS Sei Silau berkaitan erat dengan perkembangan perusahaan perkebunan negara di Sumatera Utara.
PT Perkebunan Nusantara III merupakan hasil perkembangan dan penggabungan perusahaan-perusahaan perkebunan negara yang mengalami sejumlah perubahan kelembagaan setelah nasionalisasi perusahaan perkebunan.
Pada 1996, PTPN III resmi terbentuk melalui penggabungan sejumlah entitas perkebunan negara.
Karena itu, sejarah fasilitas yang dibangun lebih dahulu harus dibedakan dari sejarah badan hukum PTPN III yang terbentuk kemudian.
Berkembang Menjadi Unit Berkapasitas Besar
Pada periode berikutnya, PKS Sei Silau menjadi salah satu pabrik dengan kapasitas 60 ton TBS per jam dalam jaringan PTPN III.
Kajian mengenai pengelolaan limbah PKS mencatat Sei Silau sebagai salah satu pabrik PTPN III dengan kapasitas tersebut. Bahkan dalam penelitian yang membandingkan beberapa PKS, Sei Silau disebut memiliki volume pengolahan TBS yang besar dibandingkan sejumlah PKS PTPN III lain dengan kapasitas sama.
Memasuki Era Pengelolaan Lingkungan
Perkembangan industri kelapa sawit tidak hanya berkaitan dengan produksi CPO.
PKS juga menghasilkan limbah cair atau Palm Oil Mill Effluent (POME) yang membutuhkan pengelolaan.
Data teknis untuk PKS Sei Silau mencatat kapasitas sekitar 60 ton TBS per jam dengan kapasitas pengolahan tahunan yang secara desain mencapai sekitar 360.000 ton TBS.
Dalam perkembangan teknologi perkebunan modern, limbah tersebut juga menjadi sumber potensial untuk pengembangan energi terbarukan, termasuk pemanfaatan biogas.
Tetap Menjadi Bagian dari Jaringan PTPN
Dalam laporan tahunan PTPN III, PKS Sei Silau tercatat sebagai salah satu dari sejumlah pabrik kelapa sawit perusahaan dengan kapasitas 60 ton TBS per jam.
Dokumen PTPN terbaru juga masih mencantumkan PKS Sei Silau dalam daftar unit yang memiliki sertifikasi RSPO.
Hal tersebut menunjukkan bahwa fasilitas Sei Silau tetap menjadi bagian dari sistem industri perkebunan sawit yang berkembang di bawah struktur holding perkebunan negara.
Jejak Panjang Industri Sawit Asahan
Dari pabrik berkapasitas awal 30 ton TBS per jam yang dibangun pada 1976–1978, PKS Sei Silau berkembang melalui dua kali peningkatan kapasitas hingga mencapai 60 ton per jam.
Perjalanan tersebut menggambarkan perkembangan industri kelapa sawit di Asahan sekaligus perubahan pengelolaan perkebunan negara di Sumatera Utara.



















Tinggalkan Balasan