Kediri, TandaGlobalNews — Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat nasional terhadap tren penyebaran virus Influenza tipe A, kewaspadaan serupa mulai digalakkan di Kabupaten Kediri. Mengingat kondisi cuaca pancaroba yang tak menentu, masyarakat diimbau untuk mewaspadai ancaman penyakit pernapasan yang rentan menyerang, terutama bagi pekerja yang memiliki mobilitas dan intensitas interaksi tinggi.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang Triyono Putro, menjelaskan bahwa influenza pada dasarnya adalah penyakit musiman yang disebabkan oleh virus tipe A, B, atau C. Namun, dari ketiga tipe tersebut, Influenza A umumnya memicu gejala klinis yang lebih berat pada penderitanya.
“Pergantian musim ini sangat memengaruhi turunnya daya tahan tubuh, sehingga masyarakat menjadi lebih mudah terserang penyakit akibat virus, salah satunya influenza,” jelas dr. Bambang.
Terkait sebaran spesifik Influenza A di wilayah Kediri, dr. Bambang mengonfirmasi bahwa hingga saat ini Dinas Kesehatan belum mencatat adanya data pasien positif. Hal ini lantaran diagnosis pasti Influenza A mewajibkan pasien untuk menjalani tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) serupa dengan metode deteksi COVID-19. Sejauh ini, belum ada laporan resmi dari rumah sakit di Kediri terkait hasil deteksi PCR untuk virus tersebut.
Meski belum ada konfirmasi resmi terkait Influenza A, lonjakan pasien dengan keluhan saluran pernapasan mulai terasa secara signifikan di fasilitas layanan kesehatan setempat. Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Awang Huda Darmawan, membenarkan adanya tren peningkatan pasien tersebut.
“Beberapa hari ini memang terjadi kenaikan pasien yang masuk ke IGD dengan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Untuk bulan ini saja, data pasien yang masuk dengan keluhan ISPA mencapai 127 orang,” ungkap Awang.
Lebih lanjut, Awang meluruskan pandangan di masyarakat yang sering menyamakan ISPA biasa dengan Influenza A. Meski memiliki sejumlah kemiripan gejala, keduanya memiliki perbedaan agen penyebab dan manifestasi klinis.
“ISPA belum tentu Influenza A. ISPA bisa disebabkan oleh bermacam-macam virus seperti rhinovirus, adenovirus, dan lainnya. Sementara Influenza A spesifik disebabkan oleh virus Influenza A. Perbedaan utamanya biasanya muncul pada keluhan nyeri sendi atau otot yang signifikan, rasa lemas berlebih, serta batuk kering,” jabarnya. Saat ini, RSUD SLG menangani ratusan pasien tersebut menggunakan standar tata laksana ISPA pada umumnya.
Menghadapi tren penyakit pernapasan ini, baik Dinas Kesehatan maupun RSUD SLG sepakat agar masyarakat tidak panik dan kembali memperketat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mengingat penularan utama virus terjadi melalui medium udara (airborne), dr. Bambang menyarankan langkah preventif sederhana seperti rutin mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta disiplin memakai masker jika sedang sakit.
Dalam hal pemulihan dan peningkatan imunitas, dr. Bambang menyebutkan bahwa masyarakat tidak diwajibkan mengonsumsi suplemen vitamin khusus.
“Diet seimbang dengan mengonsumsi sayur dan buah-buahan sebenarnya sudah cukup. Untuk penyembuhannya pun tergantung derajat keparahannya, umumnya sebagian besar kasus masih bisa teratasi melalui prosedur rawat jalan tanpa perlu perawatan intensif,” tambah dr. Bambang.
Sebagai langkah antisipasi akhir, pihak RSUD SLG meminta masyarakat untuk segera mengambil tindakan medis jika gejala mulai memburuk. “Harapan kami masyarakat tetap tenang, jaga kesehatan, dan segera datangi fasilitas kesehatan apabila terjadi sesak napas,” pungkas Awang.
Reporter: Wildan Wahid Hasyim



















Tinggalkan Balasan