Dugaan Gangguan Kesehatan Usai MBG di Badas, SPPG Dievaluasi
Kediri, TandaGlobalNews – Sejumlah siswa dan warga sekolah di wilayah Badas, Kabupaten Kediri, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keluhan yang muncul antara lain sakit perut, mual, diare hingga muntah.
Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Pemeriksaan dan uji laboratorium masih dilakukan untuk memastikan penyebabnya.
Seorang tenaga pendidik yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, keluhan mulai diketahui setelah menu MBG dibagikan pada Rabu (2/9/2026). Di salah satu MTs, sekitar lima siswa dilaporkan mengalami sakit perut, mulas dan diare. Salah seorang di antaranya juga mengalami muntah.
Menurutnya, keluhan tidak seluruhnya muncul saat siswa berada di sekolah. Sebagian baru merasakan gejala setelah pulang ke rumah. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah tidak bisa memastikan apakah keluhan berkaitan dengan MBG atau makanan lain yang dikonsumsi siswa.
“Anak-anak kan juga jajan. Jadi kami tidak bisa memastikan penyebabnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, menu MBG saat itu terdiri dari nasi, ayam berbumbu kuning, sayuran, tempe dan melon. Kondisi ayam menjadi perhatian karena menurut pengamatan sejumlah pihak di sekolah, teksturnya terasa sangat lembek dan berlendir serta disebut memiliki aroma yang berbeda dari biasanya.
Meski demikian, kondisi tersebut merupakan pengamatan dari pihak sekolah dan belum dapat menjadi bukti bahwa makanan tersebut menyebabkan gangguan kesehatan.
Pada hari berikutnya, pihak sekolah kembali menemukan persoalan pada menu ikan lele. Beberapa siswa menilai bagian dalam ikan masih terlihat merah sehingga memilih tidak mengonsumsinya dan membawa makanan tersebut pulang untuk dimasak kembali. Tidak ada keterangan bahwa menu lele tersebut menyebabkan gangguan kesehatan.
Keluhan serupa juga dilaporkan dari lingkungan pendidikan anak anak di Kecamatan Badas. Seorang tenaga pendidik menyebut terdapat beberapa orang yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan pada hari yang sama. Namun, sebagian orang yang mengalami keluhan juga diketahui mengonsumsi makanan lain sehingga penyebabnya belum dapat dipastikan.
Kepala SPPG Blaru Badas, Ervian Dwi Putra Hernanda, membenarkan adanya laporan dugaan gangguan kesehatan tersebut. Ia mengatakan laporan diterima pada Kamis malam, atau lebih dari 24 jam setelah makanan dikonsumsi.
“Dari sekolah menyampaikan ada anak yang mual. Ada juga guru yang merasa kurang enak badan, tetapi guru tersebut sebelumnya makan pentol, jadi belum bisa disimpulkan penyebabnya,” kata Ervian.
Ervian mengatakan pihak SPPG langsung mengambil sampel makanan, termasuk menu ayam, untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Menurutnya, tidak ada warga sekolah yang sampai menjalani rawat inap akibat kejadian tersebut.
SPPG Blaru Badas juga sempat menghentikan sementara kegiatan operasional. Ervian menjelaskan penghentian tersebut bukan karena makanan telah terbukti menyebabkan gangguan kesehatan, melainkan berkaitan dengan hasil pemeriksaan fasilitas yang memerlukan perbaikan dan rehabilitasi.
SPPG tersebut melayani sekitar 22 sekolah dengan total penerima manfaat mencapai sekitar 2.600 orang. Ervian menyebut terdapat sekitar enam laporan keluhan yang diterima pada Kamis, meski jumlah tersebut masih dalam proses penelusuran.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Kabupaten Kediri, Muhammad Solikin, mengatakan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di SPPG tersebut tetap dilakukan.
“Inggih, tetap dievaluasi,” ujarnya.
Solikin menegaskan pengawasan akan diperkuat, terutama terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
“Inggih, terutama kepatuhan terhadap SOP yang sudah ada,” katanya.
Tim dari Puskesmas juga melakukan pemantauan terhadap warga yang mengalami keluhan. Berdasarkan pemantauan sementara, kondisi mereka disebut relatif ringan.
Reporter: Wildan Wahid Hasyim
Editor: Rizky Rusdiyanto



















Tinggalkan Balasan