
Tandaglobal.news | Kediri — Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu desa unggulan di sektor pertanian dan agrowisata. Selain dikenal sebagai sentra produksi cabai merah besar, desa yang berada di lereng Gunung Kelud ini juga memiliki potensi durian unggulan yang menjadi daya tarik wisata setiap musim panen.
Kepala Desa Kebonrejo, Yoni Widarto, menjelaskan bahwa Desa Kebonrejo awalnya merupakan bagian dari Desa Besowo sebelum dimekarkan sekitar tahun 1969 hingga 1970. Nama Kebonrejo sendiri diambil dari kondisi wilayah yang dahulu menjadi kawasan perkebunan yang ramai didatangi para pencari nafkah dari berbagai daerah atau dalam istilah Jawa disebut “Kebon sing Rejo”.
“Desa Kebonrejo dulunya masih menjadi satu dengan Desa Besowo. Setelah pemekaran, nama Kebonrejo dipilih karena kawasan perkebunan ini sejak dulu ramai menjadi tempat masyarakat mencari penghidupan,” ujar Yoni saat ditemui di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Selasa (30/6/2026).
Dengan luas wilayah sekitar 492 hektare, Desa Kebonrejo dihuni sekitar 4.500 jiwa atau kurang lebih 1.600 kepala keluarga. Sekitar 90 persen masyarakat menggantungkan hidup di sektor pertanian dengan komoditas utama berupa cabai merah besar, tomat, bawang merah, bawang daun, durian, hingga alpukat.
Menurut Yoni, komoditas cabai menjadi salah satu kebanggaan desa karena Kebonrejo masuk sebagai salah satu sentra penghasil cabai merah besar terbesar nomor 5 Se-Jawa Timur. Produksi cabai dari desa ini bahkan turut memengaruhi pasokan nasional sehingga menjadi salah satu desa binaan Bank Indonesia dalam pengembangan komoditas hortikultura.
Selain cabai, potensi durian juga terus dikembangkan. Desa Kebonrejo memiliki berbagai varietas durian unggulan, baik durian premium maupun durian lokal yang pernah menjadi objek penelitian Dinas Pertanian. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sektor agrowisata yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Setiap musim panen, sekitar bulan Desember hingga Februari, pemerintah desa rutin menggelar Pasar Durian dan Jambore Durian. Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan bazar UMKM, arak-arakan tumpeng sayur, hingga tumpeng durian yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjual hasil panennya, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dari sektor wisata. Bahkan ketika anggaran desa untuk Jambore Durian sempat nol rupiah, kegiatan tetap bisa terlaksana berkat gotong royong dan swadaya masyarakat,” kata Yoni.
Di bidang infrastruktur, Desa Kebonrejo telah memiliki berbagai fasilitas umum seperti Polindes dan akses jalan yang sebagian besar sudah memadai. Saat ini pembangunan Jembatan Garuda di wilayah RT 4 dan RT 6 juga terus berjalan melalui sinergi bersama TNI. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, desa memanfaatkan pasokan air dari wilayah Kecamatan Puncu serta sejumlah sumur bor yang dikelola pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan kelompok tani.
Ke depan, Pemerintah Desa Kebonrejo berkomitmen meningkatkan produktivitas pertanian melalui berbagai pelatihan, penguatan UMKM, serta pengembangan sektor wisata berbasis durian. Rencana pembangunan vila dan fasilitas penginapan juga mulai disiapkan agar wisatawan dapat menikmati pengalaman menginap saat musim panen berlangsung.
Yoni berharap sektor pertanian dan pariwisata di Desa Kebonrejo terus berkembang sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, inovasi di bidang pertanian, khususnya pengembangan varietas durian lokal, akan menjadi salah satu fokus pembangunan desa pada tahun-tahun mendatang.
Jurnalis : Maulana Rahmadha