
Tandaglobal.news | KEDIRI – Titik keempat yang ditemukan dalam penelusuran aktivitas usaha material di Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, memperlihatkan sisi lain dari aktivitas galian yang telah berlangsung bertahun-tahun di kawasan tersebut.
Di lokasi ini, tim redaksi Tanda Global News pada hari Selasa, 23 Juni 2026, bertemu dengan seorang pekerja senior yang mengaku telah lama berkecimpung dalam aktivitas pengolahan material. Di tengah hamparan lahan yang sebagian telah mengalami pengerukan, pria tersebut bercerita mengenai perubahan kawasan yang menurutnya sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari mata pencaharian warga setempat.
Menurut keterangannya, sebagian besar lahan yang saat ini dimanfaatkan untuk aktivitas galian sebelumnya merupakan lahan pertanian. Namun setelah material diambil, lahan tidak serta merta ditinggalkan, melainkan diratakan kembali untuk kemudian dimanfaatkan oleh pemiliknya.
“Kalau sudah selesai digali biasanya diratakan lagi. Setelah itu bisa ditanami kembali,” ujarnya.
Ia bahkan menampik anggapan bahwa aktivitas galian selalu berdampak buruk terhadap lahan pertanian. Menurut pengalamannya, sejumlah lahan bekas galian justru mampu menghasilkan tanaman tebu yang lebih baik dibandingkan lahan yang tidak pernah mengalami pengerukan.
“Kalau ditanami tebu, kadang hasilnya malah lebih bagus. Bahkan bisa mengalahkan lahan yang berada di tempat lebih tinggi,” katanya.
Pria tersebut menjelaskan bahwa setelah material diambil, struktur tanah menjadi lebih rata sehingga memudahkan pengolahan lahan pertanian. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan sejumlah pemilik lahan bersedia lahannya dimanfaatkan terlebih dahulu untuk aktivitas pengambilan material.
Dari pengamatan di lapangan, lokasi ini masih menunjukkan aktivitas pengambilan material pasir dan batuan dalam skala tertentu. Sejumlah kendaraan pengangkut disebut datang secara bergantian untuk memenuhi kebutuhan pesanan dari berbagai daerah.

Tidak hanya untuk wilayah Kediri, pekerja tersebut menyebut material dari kawasan Sumberagung juga dikirim ke luar daerah, termasuk Jombang dan Mojokerto, tergantung permintaan konsumen.
“Kadang ada yang kirim ke Jombang, Mojokerto, campur-campur sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Selain membahas kondisi lahan, narasumber juga menyoroti aspek ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar. Menurutnya, aktivitas usaha material telah menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah warga yang menggantungkan hidup dari pekerjaan di lokasi galian, mulai dari pekerja harian, sopir angkutan, hingga pemecah batu.
“Bagi sebagian orang, ini menjadi pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Temuan di titik keempat ini menunjukkan bahwa aktivitas usaha material di Desa Sumberagung tidak hanya menyangkut aspek ekonomi dan distribusi material bangunan, tetapi juga memunculkan beragam pandangan mengenai pemanfaatan lahan pasca-galian. Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam memahami dinamika aktivitas material yang berkembang di kawasan tersebut.
Jurnalis: Wildan Wahid Hasyim