Durian dan Duku Khas OKU Siap Dikembangkan, Pemkab Andalkan Kultur Jaringan

Bupati OKU melihat pengembangan bibit tanaman dengan teknologi kultur jaringan di Yogyakarta (Foto: Istimewa/Kominfo OKU)

TandaGlobalNews | BATURAJA – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, berupaya memperkuat sektor pertanian sekaligus menjaga keberadaan tanaman khas daerah melalui pengembangan teknologi kultur jaringan. Langkah tersebut diarahkan untuk melestarikan sejumlah komoditas unggulan lokal, terutama durian dan duku khas OKU yang dinilai mulai mengalami penurunan populasi.

Gagasan tersebut muncul setelah Bupati Teddy Meilwansyah melakukan kunjungan kerja ke laboratorium kultur jaringan milik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah mempelajari metode perbanyakan tanaman modern yang dinilai mampu menghasilkan bibit unggul dalam jumlah besar dan waktu relatif singkat.

Teknologi kultur jaringan selama ini telah digunakan untuk mengembangkan berbagai jenis tanaman, termasuk pisang, dengan hasil yang lebih seragam dibanding metode konvensional. Melalui teknologi tersebut, bagian kecil jaringan tanaman dapat dikembangkan menjadi ratusan bibit baru yang memiliki kualitas lebih terjaga.

Menurut rencana, program tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi tanaman, tetapi juga menjadi upaya penyelamatan plasma nutfah daerah. Pemerintah Kabupaten OKU menilai sejumlah tanaman lokal yang dahulu menjadi identitas daerah kini mulai berkurang keberadaannya.

Beberapa varietas yang masuk dalam perhatian pemerintah di antaranya durian lokal seperti Durian Tembaga dan Durian Semengok Sakti serta beberapa jenis duku khas OKU. Varietas-varietas tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi apabila dikembangkan secara berkelanjutan.

Durian Semengok Sakti sendiri merupakan salah satu varietas unggulan lokal OKU yang dikenal memiliki cita rasa manis, daging buah tebal, biji kecil, dan kualitas premium. Varietas tersebut sebelumnya telah mendapatkan perlindungan sebagai tanaman lokal agar tidak diklaim daerah lain.

Dalam pelaksanaannya nanti, pemerintah daerah berencana memulai program secara bertahap. Salah satu skema yang disiapkan ialah penerapan di tingkat kecamatan dengan memanfaatkan pekarangan rumah warga, sekolah, kantor pemerintahan, hingga lingkungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Pemerintah berharap masyarakat tidak harus memiliki lahan luas untuk ikut berpartisipasi. Lahan pekarangan yang tersedia dinilai cukup untuk ditanami pohon produktif yang nantinya dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.

Selain itu, Pemkab OKU juga merencanakan pembangunan laboratorium kultur jaringan sendiri di wilayah kabupaten. Fasilitas tersebut nantinya akan menjadi pusat pengembangan tanaman khas daerah sekaligus sarana penelitian untuk mendukung sektor pertanian lokal.

Pengembangan komoditas unggulan ini diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian tanaman khas daerah, namun juga memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menjadikan OKU sebagai sentra buah unggulan di Sumatera Selatan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *