
(Foto: TGN/Fitri Rahayu)
Tandaglobal.news | KEDIRI, 14 Juni 2026 — Di tengah modernisasi yang kian mengikis kedekatan manusia dengan alam, sebuah upacara ritual penyucian dan pengembalian unsur-unsur alam digelar dengan penuh khidmat di Situs Calon Arang, Kediri. Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual untuk membersihkan material-material bumi yang sempat dimanfaatkan oleh manusia, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta dan penguasa waktu.
Secara filosofis, ritual ini bertujuan untuk mengembalikan segala unsur yang telah terpakai dan mungkin tercemar kembali ke asalnya. Sebagai contoh, pasir yang diambil dari sungai untuk keperluan pembangunan, dalam perjalanannya tentu tidak luput dari berbagai hal yang membuatnya tidak suci lagi—seperti terkena air hujan, terinjak, hingga terkena kotoran. Melalui upacara ini, sarana-sarana tersebut dilepaskan secara spiritual agar kembali bersih ke alam semesta.
Tahapan Persiapan Ritual
Sebelum upacara inti dimulai di kawasan situs bersejarah ini, terdapat rangkaian persiapan yang sangat ketat dan terstruktur. Tahapan pertama adalah penataan tempat pelaksanaan ritual agar menjadi kudus dan siap menerima kehadiran para dewa serta kekuatan alam.
Setelah tempat tertata, prosesi dilanjutkan dengan pembuatan banten, yaitu sarana sesajen yang berfungsi sebagai media komunikasi spiritual dan persembahan. Setelah banten selesai dibuat, dilakukan upacara pemujaan awal yang bertujuan untuk memohon penyucian terlebih dahulu, sehingga seluruh sarana dan prasarana yang digunakan benar-benar bersih dari noda niskala.
Makna Prosesi Biakala
Salah satu bagian krusial dalam upacara ini adalah prosesi Biakala. Secara etimologi, “Bia” bermakna biaya atau pengorbanan, sedangkan “Kala” berarti waktu. Dengan demikian, Biakala merupakan banten persembahan khusus untuk berterima kasih kepada Sang Waktu, karena tanpa adanya waktu, kita semua tidak akan pernah bisa hidup.
Melalui kesadaran ini, umat yang berkumpul di Situs Calon Arang diingatkan untuk berhenti sejenak dari rutinitas duniawi dan memberikan penghormatan kepada waktu yang terus berjalan dan menghidupi seluruh makhluk.

Dur Manggala dan Panca Maha Bhuta
Manusia sering kali lupa bahwa kehidupan mereka ditopang sepenuhnya oleh alam sekitar. Oleh karena itu, ritual ini juga melibatkan unsur Dur Manggala, sebuah prosesi yang didedikasikan sebagai rasa terima kasih kepada unsur-unsur alam semesta yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta, meliputi Apah (air), Bayu (udara), Teja (api), Akasa (ether atau ruang kosong), dan Pratiwi (bumi/tanah).
Tanpa kehadiran unsur-unsur tersebut, kehidupan di bumi dipastikan akan runtuh. Ritual ini menjadi momen refleksi yang menyentuh, terutama ketika mengenang masa-masa sulit seperti pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Pada saat itu, udara bersih menjadi komoditas yang sangat mahal, di mana satu tabung oksigen harus ditebus dengan biaya yang tinggi.
Namun, ketika kondisi kembali normal dan manusia bisa bernapas secara gratis setiap detiknya, manusia sering kali lupa untuk sekadar mengucap terima kasih. Dur Manggala hadir untuk mengobati sifat lupa tersebut agar manusia tidak melulu meminta hal-hal yang jauh, melainkan bersyukur atas apa yang ada di dekat mereka.
Harmonisasi dengan Bhuta Kala
Berbeda dengan pandangan umum yang cenderung menjauhi atau memusnahkan kekuatan negatif, dalam ajaran ini, kekuatan seperti Bhuta Kala atau makhluk halus tidaklah dibunuh atau disengsarakan. Sebaliknya, mereka dirangkul, disatukan, dan diberikan bagian dalam upacara ini.
Melalui banten Segehan, umat menyediakan rezeki berupa makanan dan sesajen bagi mereka. Konsepnya adalah, jika mereka mau, mereka dipersilakan untuk makan. Setelah kebutuhan mereka terpenuhi, diharapkan terjalin keharmonisan antar-makhluk ciptaan Tuhan demi saling membantu dan menjaga, bukan saling memusuhi.
Ritual Caru dan Keseimbangan Alam
Selanjutnya adalah pelaksanaan Caru, yang berfungsi sebagai penyeimbang alam semesta atau alam gelaran. Struktur peletakan sajian banten Caru tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti aturan sastra suci yang mencerminkan anatomi tubuh manusia.
Banten Caru itu sendiri melambangkan bagian kaki, banten Sesayut melambangkan bagian perut atau tubuh, sedangkan banten Pejati melambangkan bagian kepala. Penataan sajian yang menyerupai struktur tubuh ini menegaskan bahwa alam semesta (bhuana agung) dan diri manusia (bhuana alit) adalah satu kesatuan utuh yang harus selaras.

Persembahan untuk Penguasa Alam
Tak hanya itu, ritual di Situs Calon Arang ini juga menghadirkan Banten Kolak Kencana yang dipersembahkan khusus untuk melinggihkan atau mengundang Dewa Varuna serta para penguasa samudra dan lautan—termasuk Ratu Laut Selatan, Ratu Laut Barat, Ratu Laut Utara, Ratu Laut Timur, dan Ratu Laut Madya.
Kehadiran para penguasa samudra ini dimohonkan agar mereka berkenan mengalirkan energi keselamatan dan kesejahteraan (basuki slamet) bagi jagat raya. Disertakan pula Banten Joyo Boyo sebagai simbol permohonan kedamaian agar manusia senantiasa dimenangkan dari segala marabahaya, serta Banten Kembang Setaman dan Bubur Pirata-Pirata sebagai bentuk penghormatan suci kepada para leluhur.
Makna Yadnya dan Banten Songgo Buwono
Sebagai penutup dari rangkaian persembahan, dihadirkan Banten Songgo Buwono. Berdasarkan ajaran suci, Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Brahma Prajapati menciptakan dunia ini melalui proses Yadnya atau pengorbanan suci.
Mengingat dunia ini tercipta dari pengorbanan, maka dunia juga harus dirawat dengan pengorbanan yang tulus dari manusianya. Yadnya adalah penyangga utama tegaknya dunia ini, karena tanpa adanya ritual dan ketulusan, dunia dipercaya akan hancur.
Banten Songgo Buwono ini dipersembahkan kepada seluruh penguasa di segala penjuru mata angin—mulai dari Purwa (Timur), Agneya (Tenggara), Daksina (Selatan), Nairiti (Barat Daya), Pasima (Barat), Wayabya (Barat Laut), Utara, Aisanya (Timur Laut), hingga ke bawah (Sor), tengah (Madya), dan atas (Luhur), baik yang bersifat sekala (nyata) maupun niskala (gaib).
Prosesi Melaspas Gedung Simpen
Seluruh rangkaian upacara yang panjang dan rumit di Situs Calon Arang ini bermuara pada satu tujuan inti, yaitu prosesi Melaspas Gedung Simpen. Prosesi melaspas ini bertujuan untuk mengubah status bangunan yang awalnya berupa material fisik biasa menjadi bangunan yang suci.
Ibarat sebuah gawai atau handphone baru yang diisi daya dan dipasang kartu seluler agar bisa berfungsi, gedung simpen yang telah dipasupati dan dlespas kini telah siap dan layak digunakan sebagai tempat suci untuk menyimpan benda-benda sakral keagamaan. Upacara berjalan dengan sangat lancar, meninggalkan getaran spiritual yang menyejukkan bagi seluruh umat yang hadir.