Atap SDN Asmorobangun 1 Hampir Roboh, Tiga Ruang Kelas Tak Bisa Dipakai

Kondisi SDN Asmorobangun 1 memprihatinkan. Tiga kelas ditutup akibat atap rusak dan belum ada anggaran perbaikan dari dinas.
(Foto: Dok. TGN/Maulana Rahmadha)

TandaGlobalNews | Kediri, 15 Juni 2026 — Kondisi bangunan SDN Asmorobangun 1, Dusun Jomblang, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kini memprihatinkan. Bagian atap sekolah terlihat melengkung dan nyaris roboh akibat usia bangunan yang sudah sangat tua, sehingga membuat tiga ruang kelas tidak dapat digunakan lagi untuk proses belajar mengajar.

Kondisi ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Pihak sekolah dan komite telah mengajukan permohonan perbaikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut. Bahkan, diketahui bahwa pada tahun anggaran 2026 ini tidak dialokasikan dana untuk pembangunan atau perbaikan gedung sekolah tersebut.

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, sejumlah wali murid berinisiatif melakukan upaya swadaya dengan menurunkan genting yang sudah tidak aman, agar tidak menimbulkan risiko jatuh dan melukai siapa pun. Namun rencana tersebut tidak mendapat izin dari Dinas Pendidikan, dengan alasan bahwa perbaikan gedung sekolah merupakan tanggung jawab penuh instansi terkait.

“Kami sudah mengajukan berulang kali sejak dua tahun lalu, tapi jawabannya tahun ini tidak ada anggaran,” ungkap Suryani, Wakil Komite Sekolah, saat ditemui di lokasi.

Karena atap yang sudah tidak layak dan berpotensi roboh sewaktu-waktu, tiga ruang kelas tersebut terpaksa dikosongkan dan tidak dapat dimanfaatkan. Hal ini berdampak langsung pada kenyamanan dan kelancaran kegiatan belajar mengajar siswa di sekolah tersebut.

“Wali murid ingin menurunkan gentingnya saja supaya tidak membahayakan, tapi dilarang karena itu kewajiban dinas. Sementara kondisinya makin miring dan nyaris runtuh,” tambahnya.

Pihak komite dan warga berharap agar pemerintah daerah segera meninjau kondisi lapangan dan menyediakan anggaran perbaikan. Mereka mengingatkan bahwa keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas utama, mengingat risiko yang mengancam jika dibiarkan terus berlanjut.


Penulis: Mualana Rahmadha
Editor: Aditya Efendi

administrator

    Related Articles

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *