
di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency sabtu (13/6). (Foto dok. Ginting Institute)
Tandaglobalnews | BADUNG – Sebuah ruang kreatif yang memadukan seni, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan resmi hadir di Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung. Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency diresmikan pada Sabtu 13 Juni 2026 sebagai pusat kreativitas yang diharapkan menjadi wadah pertemuan seniman, budayawan, intelektual, dan komunitas kreatif dari Bali maupun mancanegara.
Berlokasi di kawasan Canggu yang dinamis, WRQ Art Hub & Residency hadir sebagai ruang refleksi dan dialog melalui seni dengan mengusung pesan keberlanjutan lingkungan.
Pendiri Ginting Institute sekaligus kolektor seni, Daniel Ginting, mengatakan kehadiran WRQ merupakan bentuk dedikasi dirinya bersama sang istri, Quoriena Ginting, untuk mendukung perkembangan seni dan budaya, khususnya bagi masyarakat Tibubeneng dan sekitarnya.
“Seni tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” ujar Daniel.
Senada dengan itu, Quoriena Ginting menegaskan bahwa seni yang mengangkat isu lingkungan tidak hanya berorientasi pada keindahan visual, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran dan mendorong aksi nyata dalam menjaga bumi.
Pembukaan WRQ Art Hub & Residency dirangkaikan dengan pameran Tibubeneng Sustainable Art yang mendapat perhatian luas dari masyarakat. Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi, Camat Kuta Utara I Putu Eka Parmana, Perbekel Desa Tibubeneng I Made Kamajaya, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pelaku seni.
Salah satu daya tarik pameran adalah karya-karya seniman cilik dari sekolah dasar se-Desa Tibubeneng yang dipamerkan di wantilan WRQ. Karya tersebut lahir setelah para siswa mengikuti workshop plasticology bersama seniman Made Bayak, yang mengajarkan pengolahan limbah plastik menjadi karya seni bernilai estetis.
Sementara itu, ruang galeri WRQ menampilkan karya dari 10 seniman lintas disiplin yang mengangkat tema lingkungan. Beberapa di antaranya adalah karya perupa almarhum Made Wianta, Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Dari bidang kartun, turut dipamerkan karya Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, serta Putu Dian Ujiana atau Beluluk. Pameran juga menghadirkan karya fotografi dari Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.
Kurator pameran, Yudha Bantono, menjelaskan bahwa Tibubeneng Sustainable Art merupakan inisiatif kolaboratif yang menggabungkan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan.
Menurutnya, pameran tersebut menjadi ruang dialog kreatif yang mempertemukan anak-anak, seniman, masyarakat desa, hingga para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong solusi terhadap persoalan lingkungan.
“Konsep Tibubeneng Sustainable Art dirancang untuk menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan. Karya-karya yang menggunakan bahan ramah lingkungan, material daur ulang, dan berbagai teknik kreatif diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat,” jelas Yudha.
Perbekel Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, menyambut baik kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan tersebut. Ia menilai pameran ini menjadi bukti nyata kepedulian berbagai pihak dalam mendukung upaya penanganan sampah dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan di tingkat desa.
Pameran Tibubeneng Sustainable Art menampilkan lebih dari 20 karya yang terdiri atas lukisan, kartun, instalasi seni, dan fotografi. Pameran terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di WRQ Art Hub & Residency, Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung.