Tiga Kisah Penuh Makna Terukir di Relief Candi Surowono: Keunikan yang Berbeda dari Candi Tegowangi

Relief Candi Surowono menyimpan tiga kisah penuh makna, yakni Bubuksah dan Gagang Aking, Arjuna Wiwaha, serta Sri Tanjung yang menjadi warisan budaya bernilai luhur dari masa lampau. 📸 Foto: Fitri Rahayu/TandaGlobalNews

Tandaglobalnews Kediri, 8 Juni 2026 – Sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang bernilai tinggi di Kabupaten Kediri, Candi Surowono menyimpan kekayaan budaya dan kisah kehidupan yang terukir indah di setiap relief dindingnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber serta penjelasan dari Swara Swanto, karyawan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Trowulan, Mojokerto, terungkap bahwa candi ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari bangunan sejenis lainnya, salah satunya adalah Candi Tegowangi.

“Secara umum, jika kita bandingkan dengan candi lain di sekitarnya seperti Candi Tegowangi yang hanya memuat satu judul cerita utama yaitu Sudamala, maka Candi Surowono justru lebih kaya. Ia memuat tiga kisah berbeda yang masing-masing mengandung pesan moral mendalam, yaitu Bubuksah dan Gagang Aking, Arjuna Wiwaha, dan Sri Tanjung,” jelas Swara Swanto. Menurutnya, ketiga cerita tersebut tidak hanya menjadi karya seni pahat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat pada masa pembangunannya.

1. Kisah Bubuksah dan Gagang Aking: Ketulusan Hati di Atas Kerasnya Tirakat

Cerita pertama yang tergambar adalah kisah tentang dua orang bersaudara kembar yang menjalani jalan ibadah dengan cara yang sangat berbeda. Bubuksah dan Gagang Aking sama-sama memilih hidup bertapa, namun prinsip yang mereka pegang sangat bertolak belakang. Bubuksah menjalani pertapaan dengan tetap mempertahankan keseimbangan hidupnya; ia tetap makan secara teratur dan bebas sesuai kebutuhan tubuhnya. Sebaliknya, Gagang Aking memilih jalan tirakat yang sangat ekstrem. Ia berpuasa berkepanjangan dan makan dalam porsi yang sangat sedikit, hingga tubuhnya menjadi kurus kerontang dan lemah. Bagi Gagang Aking, semakin berat penderitaan yang ia jalani, semakin tinggi derajat kerohaniannya.

Suatu hari, keduanya diuji oleh Dewa Wisnu yang menjelma menjadi seekor macan yang terlihat sangat kelaparan. Hewan tersebut mendatangi tempat Gagang Aking bertapa dan meminta makanan. Namun, Gagang Aking justru menolak dan berkata, “Jangan makan saya, badan saya kurus dan tidak akan membuatmu kenyang. Pergilah dan makanlah Bubuksah saja.” Ketika macan itu mendatangi Bubuksah dan meminta hal yang sama, reaksi yang diberikan sangat berbeda. Bubuksah justru merelakan dirinya sepenuh hati dan berkata ia siap dikorbankan jika itu memang menjadi kehendak.

Karena ketulusan dan keikhlasannya tanpa pamrih, Bubuksah dinyatakan lulus ujian tersebut dan berhak naik ke alam Nirwana atau surga. Atas permohonannya, saudaranya Gagang Aking pun akhirnya diizinkan ikut dibawa serta. Dalam pahatan relief, perbedaan keduanya tergambar jelas: Bubuksah digambarkan duduk tegap di atas punggung macan, sedangkan Gagang Aking hanya dapat berpegangan erat pada ekor hewan tersebut.

Menurut Swara Swanto, cerita ini mengandung makna filosofis yang mendalam.

“Cerita ini mengajarkan bahwa nilai spiritual dan kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dari seberapa keras penderitaan atau seberapa ketat puasa yang dilakukan semata. Intinya terletak pada ketulusan hati, keberanian, dan kesiapan berkorban demi kebaikan, bukan sekadar penampilan lahiriah,” ungkapnya.

2. Kisah Arjuna Wiwaha: Ketabahan Menghadapi Godaan Demi Tujuan Mulia

Cerita kedua yang terukir adalah Arjuna Wiwaha, yang menceritakan perjuangan besar Arjuna dalam menjalani pertapaan berat. Dalam perjalanannya, Arjuna menghadapi berbagai rintangan dan godaan yang datang bertubi-tubi. Tidak hanya diganggu oleh makhluk halus yang berusaha mengacaukan konsentrasinya, ia juga dihadapkan pada bujukan kenikmatan duniawi yang dapat menggoyahkan tekadnya. Namun, berkat ketabahan, kesabaran, dan pengendalian diri yang tinggi, Arjuna mampu menolak dan melewati segala godaan tersebut dengan teguh.

Atas kesungguhannya, Arjuna akhirnya mendapatkan anugerah berupa senjata sakti yang sangat ampuh bernama Panah Pasupati. Senjata ini kemudian ia gunakan untuk mengalahkan raksasa jahat yang menjadi ancaman besar bagi kedamaian dan keselamatan para dewa serta alam semesta.

Swara Swanto menambahkan, kisah ini memiliki relevansi yang tinggi sepanjang masa.

“Inti dari kisah ini adalah mengajarkan bahwa untuk mencapai sesuatu yang mulia dan berharga, seseorang harus memiliki kemampuan menahan diri dari hal-hal yang buruk dan tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat. Keberhasilan sejati akan diraih oleh mereka yang memiliki keteguhan hati dalam memperjuangkan kebenaran,” jelasnya.

3. Kisah Sri Tanjung: Kesetiaan, Fitnah, dan Pembuktian Kebenaran

Cerita ketiga yang terletak di bagian utara candi ini memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi alur maupun cara pembacaannya. Hal ini juga ditegaskan oleh Swara Swanto yang menjelaskan pola pembacaannya.

“Berbeda dengan cerita pada umumnya yang disusun secara berurutan dari awal hingga akhir, relief Sri Tanjung disusun dengan pola bolak-balik. Ia menggabungkan dua gaya pembacaan: Prasawiya atau berlawanan arah jarum jam, dan Prasadaksina atau searah jarum jam. Inilah yang menjadikannya memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan candi-candi lain yang alurnya linier,” paparnya.

Kisah ini bermula ketika Sidapaksa, suami Sri Tanjung, diutus oleh Raja Sulakrama untuk menjalankan misi peperangan yang jauh. Selama ditinggal suaminya, kecantikan Sri Tanjung menarik perhatian Raja Sulakrama yang berniat menggoda dan menjadikannya istri. Namun, Sri Tanjung menunjukkan kesetiaan yang tinggi dan menolak ajakan raja tersebut dengan tegas dan sopan. Merasa ditolak dan sakit hati, Raja Sulakrama pun merencanakan kejahatan. Ketika Sidapaksa pulang dari perjalanan, raja tersebut memfitnah Sri Tanjung dengan memutarbalikkan kenyataan, seolah-olah Sri Tanjunglah yang telah menggoda dan mengganggunya.

Terpengaruh oleh fitnah tersebut, Sidapaksa menjadi marah dan percaya begitu saja. Ia membawa Sri Tanjung ke tengah hutan dan membunuhnya. Namun, sebelum ajalnya tiba, Sri Tanjung berjanji akan membuktikan kesuciannya. Sesuai kata-katanya, jasadnya kemudian naik ke atas air dengan menaiki seekor ikan, dan seketika air di sekitarnya berubah menjadi sangat harum semerbak. Hal ini menjadi tanda yang jelas bahwa Sri Tanjung tidak bersalah, dan justru Raja Sulakrama lah yang memiliki niat jahat.

Setelah mengetahui kebenaran dan menyesali perbuatannya, Sidapaksa memohon pertolongan kepada Betari Durga agar dapat berbicara dengan arwah istrinya. Sri Tanjung bersedia hidup kembali dengan satu syarat: keadilan harus ditegakkan. Akhirnya, Raja Sulakrama dibunuh sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kejahatannya, dan Sidapaksa serta Sri Tanjung dapat bersatu kembali hidup bahagia.

Keunikan dan Nilai Budaya Candi Surowono

Secara keseluruhan, Swara Swanto menilai bahwa keberadaan tiga cerita sekaligus dalam satu candi menjadi bukti kekayaan budaya masa lalu.

“Candi Surowono menggabungkan berbagai tema kehidupan—mulai dari spiritualitas, ketabahan, kesetiaan, hingga keadilan. Pola pembacaan relief Sri Tanjung yang tidak lurus melainkan bolak-balik juga menunjukkan bahwa masyarakat pada masa pembangunannya telah memiliki cara berpikir dan berkomunikasi yang unik dan tidak kaku,” ujarnya.

Setiap pahatan di Candi Surowono bukan sekadar karya seni, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan. Kisah Bubuksah mengajarkan ketulusan, Arjuna mengajarkan keteguhan hati, sedangkan Sri Tanjung mengajarkan tentang kesetiaan dan pentingnya mencari kebenaran sebelum menghakimi orang lain. Warisan ini terus menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lampau di tanah Kediri, sekaligus tetap relevan untuk dijadikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *