PEMALANG, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Banjardawa atau Suikerfabriek Bandjardawa merupakan salah satu pabrik gula bersejarah di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pabrik ini berada di Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, dan menjadi bagian dari perkembangan industri gula di Pemalang sejak abad ke-19.

Pabrik Gula Banjardawa termasuk salah satu pabrik gula tertua di Pemalang. Sejumlah sumber mencatat pembangunannya pada 1844–1846. Kajian mengenai warisan industri gula Pemalang menyebut pabrik ini dibangun sekitar 1846 dan menjadi pabrik gula kedua di Pemalang setelah Pabrik Gula Comal.

Keberadaan pabrik telah terdokumentasi dalam sumber Belanda pada pertengahan abad ke-19. Produksi gula Banjardawa tercatat pada 1848, sedangkan pada 1850 nama pabrik tersebut kembali muncul bersama Pabrik Gula Comal dalam Javasche courant.

Dalam perkembangannya, Pabrik Gula Banjardawa berkaitan dengan Javasche Cultuur Maatschappij. Perusahaan tersebut kemudian melakukan investasi dan pengembangan fasilitas pabrik.

Pada 1888, bangunan pabrik mengalami renovasi besar, termasuk perluasan bangunan serta pembaruan mesin dan peralatan produksi.

Memasuki awal abad ke-20, Pabrik Gula Banjardawa semakin berkembang. Pada 1905, dibangun jaringan kereta lori untuk mengangkut tebu dari perkebunan menuju pabrik.

Keberadaan jaringan lori menjadi bagian penting dari sistem produksi karena memungkinkan pengangkutan tebu dari lahan perkebunan secara lebih efisien.

Pabrik juga memiliki berbagai fasilitas pendukung, termasuk jaringan pengairan dan fasilitas kesehatan. Salah satu infrastruktur penting adalah stasiun pompa Sirayak, yang dibangun pada 1921 untuk membantu menangani aliran limbah industri tebu atau blacwater.

Produksi Banjardawa mencapai angka tinggi pada awal abad ke-20. Pada 1910, produksinya tercatat sekitar 122.621 pikul.

PG Banjardawa yang sudah direnovasi pada tahun 1888. (Dok. wikipedia).

Setahun kemudian muncul rencana pengembangan lebih lanjut, termasuk perluasan lahan perkebunan hingga sekitar 1.200 bau. Pada 1912, bangunan dan fasilitas pabrik kembali diperbesar dan diperbarui.

Kejayaan tersebut tidak berlangsung tanpa hambatan. Krisis ekonomi dunia atau Malaise pada awal 1930-an memberikan dampak besar terhadap industri gula di Jawa.

Pada 1932, produksi Pabrik Gula Banjardawa mengalami penurunan sekitar 40 persen. Pabrik kemudian berhenti beroperasi pada pertengahan 1932.

Sumber sejarah industri Pemalang juga mencatat bahwa pabrik kembali beroperasi pada 1934, meskipun produksinya masih rendah.

Menariknya, meskipun kegiatan pabrik berhenti, perkebunan tebunya masih dimanfaatkan. Kajian warisan industri gula Pemalang mencatat bahwa setelah penutupan pabrik, penanaman tebu masih dilakukan dan hasil panen pada 1933 kemudian dilimpahkan ke Pabrik Gula Petarukan.

Perubahan besar terjadi ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942. Pabrik Gula Banjardawa berhenti beroperasi dan mengalami kerusakan serta penjarahan.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, kawasan Pemalang menjadi salah satu wilayah yang mengalami gejolak sosial dan politik. Pabrik Gula Banjardawa turut terkena dampaknya.

Kajian sejarah Pemalang mencatat bahwa pabrik tersebut akhirnya dibumihanguskan oleh gerilyawan dan rakyat pada masa revolusi.

Sumber sejarah lain menyebut kerusakan parah terjadi pada periode 1949, ketika kompleks pabrik mengalami serangan dan penjarahan besar-besaran. Setelah itu, Pabrik Gula Banjardawa tidak kembali menjadi pusat produksi gula.

Setelah Indonesia memasuki masa nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, kompleks bekas Pabrik Gula Banjardawa pada akhirnya kehilangan fungsi industrinya.

Jaringan lori yang dahulu digunakan untuk mengangkut tebu kemudian dimanfaatkan oleh Pabrik Gula Sumberharjo.

Kini, bangunan dan mesin utama Pabrik Gula Banjardawa sudah tidak tersisa. Kawasan bekas kompleks pabrik telah berubah menjadi berbagai fasilitas dan permukiman.

Jejak fisik yang masih dapat ditemukan terutama berupa sisa fondasi di kawasan sekitar bekas kompleks pabrik.

Pabrik Gula Banjardawa merupakan bagian penting dari sejarah industrialisasi Kabupaten Pemalang. Berdiri sekitar 1844–1846, pabrik ini berkembang menjadi salah satu industri gula besar di Pemalang, mengalami modernisasi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kemudian terdampak krisis Malaise, pendudukan Jepang, serta pergolakan Revolusi Kemerdekaan.

Terdapat perbedaan tahun pendirian dalam sumber, yakni 1844 dan 1846. Karena itu, penulisan “berdiri sekitar 1844–1846” lebih tepat daripada menetapkan satu tahun secara mutlak.