BANTUL, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Barongan merupakan salah satu industri gula bersejarah yang pernah berkembang di wilayah Yogyakarta pada masa Hindia Belanda. Pabrik ini berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, dan didirikan oleh G. (George) Weijnschenk sebelum 1867.
Barongan muncul ketika industri perkebunan tebu dan gula berkembang pesat di Jawa pada abad ke-19. Perubahan kebijakan ekonomi kolonial membuka kesempatan lebih besar bagi perusahaan swasta untuk mengembangkan perkebunan dan pabrik gula.
Dokumen pemerintahan Hindia Belanda dari abad ke-19 mencatat Barongan sebagai perusahaan gula yang berkaitan dengan sejumlah nama, antara lain G. L. Weijnschenk, J. A. W. Eilers, G. Weijnschenk Jr., dan A. C. de Witgeb. Weijnschenk.
Dalam perkembangannya, kepemilikan Pabrik Gula Barongan mengalami perubahan. Sumber sejarah lokal menyebut pabrik yang awalnya didirikan George Weijnschenk kemudian berada di bawah N.V. Cultuurmaatschappij der Vorstenlanden.
Barongan menjadi bagian dari jaringan industri gula yang berkembang di kawasan Bantul. Pada sekitar 1930, tercatat terdapat 19 pabrik gula di wilayah Yogyakarta, termasuk Bantul, Padokan, Pundong, Gesikan, Wonocatur, dan Barongan.
Pabrik Gula Barongan masih beroperasi hingga periode krisis ekonomi dunia pada dekade 1930-an. Krisis tersebut berdampak pada kegiatan perusahaan dan menyebabkan jumlah pegawai pabrik mengalami pengurangan.
Kegiatan produksi Barongan kemudian berhenti total pada 1937. Setelah itu, perkebunan tebunya dikaitkan dengan Pabrik Gula Padokan.
Arsip Nationaal Archief juga mencatat Padokan dirujuk sebagai Barongan. Catatan tersebut menunjukkan adanya hubungan administratif dan korporasi antara kedua perusahaan dalam sejarah industri gula.
Bekas kompleks Pabrik Gula Barongan kembali memiliki fungsi historis pada masa pergolakan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada periode Agresi Militer Belanda II, kawasan tersebut pernah digunakan sebagai kamp interniran bagi orang-orang Belanda.
Peristiwa itu membuat kawasan bekas pabrik tidak hanya berkaitan dengan sejarah industri perkebunan, tetapi juga dengan dinamika sosial-politik Yogyakarta pada masa revolusi.
Saat ini, kompleks utama Pabrik Gula Barongan sudah tidak tersisa. Bekas lokasi pabrik di kawasan Sumberagung, Jetis, kemudian mengalami perubahan fungsi dan disebut digunakan sebagai laboratorium kesehatan hewan milik BPBTDK Dinas Pertanian DIY.
Tahun berdirinya Barongan juga memiliki perbedaan dalam sejumlah sumber. Dinas Kebudayaan Bantul dan kajian sejarah Bantul menyebut pabrik didirikan sebelum 1867, sedangkan publikasi lain mencantumkan 1855.
Dengan mempertimbangkan perbedaan tersebut, formulasi “berdiri sebelum 1867” menjadi keterangan yang lebih aman. Pabrik Gula Barongan menjadi salah satu jejak penting sejarah industri gula di Bantul yang kini tinggal dalam catatan sejarah dan perubahan fungsi bekas kawasannya.



















Tinggalkan Balasan