JAKARTA, Tandaglobal.news — Tren thrifting atau berburu pakaian bekas semakin berkembang di kalangan anak muda. Aktivitas yang sebelumnya lebih dikenal sebagai cara mendapatkan pakaian dengan harga terjangkau kini turut menjadi bagian dari gaya hidup dan cara mengekspresikan diri melalui fashion.

Sejumlah penelitian pada 2026 menunjukkan bahwa keputusan Generasi Z untuk membeli pakaian thrift tidak hanya berkaitan dengan harga. Faktor seperti keunikan model, kualitas pakaian, gaya personal, serta perhatian terhadap isu lingkungan juga ikut menjadi pertimbangan.

Di kawasan Jabodetabek, khususnya Jakarta, thrifting bahkan menjadi bagian dari kebiasaan berbelanja sebagian anak muda. Penelitian yang diterbitkan Frontiers in Communication pada September 2026 menemukan bahwa sejumlah responden Gen Z di wilayah Jakarta Raya mengaitkan pakaian bekas dengan harga yang lebih terjangkau, kualitas, variasi model, identitas diri, dan kesadaran lingkungan.

Pakaian vintage juga memberikan pilihan bagi mereka yang ingin membangun gaya berpakaian yang lebih personal. Barang yang ditemukan di pasar atau toko thrift tidak selalu memiliki model yang sama dengan pakaian yang sedang dijual secara massal, sehingga pemakainya dapat memadukannya dengan berbagai item lain.

Media sosial turut membuat tren tersebut semakin mudah dikenal. Penelitian Universitas Diponegoro yang terbit pada 2026 menunjukkan adanya hubungan antara intensitas mengakses konten thrift di TikTok dan minat membeli fashion thrift pada Generasi Z Indonesia.

Fenomena serupa juga terlihat dalam penelitian mengenai Generasi Z di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Penelitian tersebut menemukan adanya kecenderungan sebagian responden untuk menjadi lebih selektif dalam membeli pakaian dan memperpanjang masa penggunaan pakaian. Meski demikian, pergeseran dari fast fashion ke thrift fashion tidak sepenuhnya menggantikan kebiasaan membeli pakaian baru.

Selain persoalan ekonomi dan gaya, aspek keberlanjutan menjadi pembahasan lain dalam tren thrifting. Menggunakan kembali pakaian yang masih layak dapat memperpanjang masa pakainya. Namun, penelitian tentang praktik thrifting di Jakarta Raya juga mencatat bahwa konsumen perlu memahami persoalan yang lebih luas, termasuk dampak transportasi, peredaran pakaian bekas impor, industri tekstil lokal, dan pengelolaan limbah.

Karena itu, thrifting kini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai aktivitas mencari pakaian murah. Bagi sebagian anak muda, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi perpaduan antara pertimbangan ekonomi, pencarian gaya yang berbeda, ekspresi identitas, hingga perhatian terhadap pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Tren ini juga memperlihatkan bagaimana fashion terus mengalami perubahan. Pakaian bekas yang sebelumnya kerap dipandang sebelah mata kini dapat menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, terutama ketika anak muda semakin aktif mencari karakter personal di tengah tren fashion yang terus berubah.