Setelah pola pemasaran tersebut tidak lagi berjalan, pengrajin sempat menjual produk secara berkeliling sebelum akhirnya lebih banyak memasarkannya melalui pasar tradisional.

Saat ini, tape dipasarkan ke sejumlah pasar, di antaranya Pasar Setono Betek dan Pasar Pahing di Kota Kediri, serta pasar di Pare, Nganjuk, dan Berbek.

“Dulu disetor ke pabrik permen, kemudian dijual keliling. Sekitar sepuluh tahunan ini lebih banyak dipasarkan ke pasar sampai sekarang,” jelasnya.

Selain mengandalkan pasar tradisional, tape produksi kawasan tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Ahmad, teksturnya cenderung agak kering tetapi tetap empuk, tidak terlalu basah seperti tape dari sejumlah daerah lain yang diketahuinya.

Produk dijual dalam berbagai ukuran sesuai permintaan pembeli. Kemasan kecil dibanderol sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000, sedangkan pembelian dalam jumlah lebih besar tersedia dalam satuan kilogram.

Ahmad juga pernah mencoba mengembangkan produknya menjadi berbagai olahan lain, seperti tape dalam kemasan besek, permen tape, prol tape, hingga roti berbahan tape. Sejumlah upaya pengembangan tersebut sempat mendapat dukungan berupa pelatihan dan bantuan peralatan, tetapi belum menghasilkan pemasaran yang berkelanjutan.

Menurutnya, penjualan tape dalam bentuk tradisional masih menjadi pola usaha yang paling bertahan hingga saat ini. Pengrajin mengolah singkong, menjalani proses fermentasi, kemudian memasarkan tape setelah matang.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga ketersediaan bahan baku dan kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar.

Ahmad berharap pasokan singkong dapat kembali lancar agar aktivitas produksi berjalan normal. Dengan demikian, para pengrajin dapat kembali memenuhi permintaan pelanggan dan mempertahankan usaha yang telah dijalankan secara turun-temurun.

Bagi Ahmad dan pengrajin lainnya, ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting agar usaha tape tradisional di Krajan Kidul tetap bertahan dan terus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.