Dony, salah seorang manajer KDKMP asal Tangerang Selatan, mengaku lokasi penugasannya sesuai dengan domisilinya.

Namun, setelah mengecek lokasi, ia menyebut bangunan yang akan digunakan untuk koperasi belum tersedia.

“Tapi Kopdes saya belum ada. Belum ada bangunannya, saya udah keliling-keliling belum ada,” ujarnya.

Di tengah persoalan tersebut, Agrinas membuka ruang bagi para manajer untuk menyampaikan keberatan terkait lokasi penempatan.

Joao mengatakan sejumlah manajer telah datang ke kantor Agrinas untuk membicarakan kemungkinan relokasi.

“Mereka berharap bisa dilakukan relokasi,” kata Joao.

Menurut Joao, permintaan tersebut akan disampaikan kepada Kementerian Koperasi untuk dibahas lebih lanjut.

Sementara itu, angka 1.501 calon manajer yang tidak melanjutkan proses penugasan muncul beberapa hari setelah Zulhas menyebut jumlah manajer yang mengundurkan diri masih sangat sedikit.

Pada 29 September 2026, Zulhas menyebut jumlah tersebut hanya “sedikit, satu-dua lah”.

Ia sekaligus memastikan tidak ada sanksi bagi manajer yang memilih mengundurkan diri.

Pernyataan tersebut disampaikan sebelum data terbaru Agrinas mengenai 969 penolakan dan 532 offering letter kedaluwarsa dipublikasikan.

Karena itu, perbedaan angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai perkembangan data dalam proses penempatan, bukan pertentangan langsung antara pernyataan pemerintah dan data Agrinas.

Bagi 27.099 manajer yang telah menandatangani offering letter, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menerima penugasan, tetapi memastikan mereka dapat menjalankan tugas di lokasi yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, persoalan Kopdes Merah Putih kini memasuki tahap yang lebih konkret.

Perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah manajer yang bersedia ditugaskan, tetapi juga pada kesiapan lokasi, fasilitas koperasi, dan dukungan operasional ketika mereka mulai bekerja.