Suasana panggung Grand Final berlangsung semarak dan penuh kehangatan.

Para peserta menunjukkan kemampuan retorika dengan menyampaikan materi yang relevan, edukatif, dan berkarakter, disertai humor, pantun lokal, serta pesan keagamaan dan kebangsaan.

Athaleta Eileen Setyawan membawakan tausiyah bertema “Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari”.

Dengan gaya komunikatif, Athaleta mengajak teman sebayanya untuk mengidolakan Nabi Muhammad SAW di atas figur populer masa kini.

Ia juga menyinggung kebiasaan anak muda yang suka menunda perintah orang tua karena gawai, sembari mengajak meneladani sifat kasih sayang Rasulullah kepada sesama.

Azighah Tsurayya tampil dengan pembuka pantun bahasa Jawa dan kutipan ajaran Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Azighah menekankan lima akhlak utama Nabi, termasuk pentingnya menjaga lisan dari perilaku mencela atau maido.

Ia mengutip bait hikmah, “Yamutul fata min ‘atwatin min lisanih…” yang bermakna bahwa kebinasaan seseorang kerap disebabkan oleh terpeleset lisannya, bukan karena terpeleset kakinya.

Azkia Hasna Khairina menyampaikan pesan moral dengan gaya yang segar dan lugas.

Azkia mengingatkan pentingnya meneladani sifat kejujuran atau Al-Amin, keluwesan dalam bersikap, hingga kedisiplinan beribadah tepat waktu ketika azan berkumandang.