Renita, salah seorang pembeli asal Kecamatan Kepung, mengaku cukup sering membeli kue lumpur tersebut.
Ia tertarik karena jajanan itu memiliki karakter berbeda dan cocok dijadikan camilan untuk keluarga.
“Saya kerap membeli kue lumpur ini karena memang ini satu-satunya dan rasanya enak. Biasanya saya beli siang hari untuk dimakan bersama keluarga,” kata Renita.
Pembeli lainnya, Ilya asal Kepung, mengetahui keberadaan kue lumpur tersebut dari temannya saat mengikuti les renang di Pare.
Ia kemudian tertarik mencoba karena proses pembuatannya menggunakan arang.
“Rasanya berbeda karena ada ciri khas bau arangnya, smoky-nya. Untuk cita rasa juga memang enak,” ujar Ilya.
Dengan ukuran kedai sekitar 2×3 meter, pembeli terlihat silih berganti untuk mendapatkan kue lumpur bakar tersebut.
Keunikan proses produksi dan karakter rasa menjadi salah satu daya tarik yang membuat jajanan ini memiliki pelanggan tersendiri.
Sofia berharap pelanggan Nduk D’Tha terus bertambah tanpa menghilangkan karakter rasa yang selama ini menjadi ciri khas.
Ia juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha melalui penambahan cabang di masa mendatang.
“Semoga pelanggannya tetap balik lagi. Rasanya tetap meskipun nanti ada yang buka cabang. Semoga makin laris, makin ramai. Insya Allah kita mau buka cabang,” katanya.
Saat ini, kue lumpur bakar Nduk D’Tha buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Perpaduan resep sederhana, proses pembakaran menggunakan arang, aroma smoky, tekstur lembut, dan harga yang terjangkau menjadi karakter utama jajanan tersebut di tengah beragam kuliner di Pare.



















Tinggalkan Balasan