
KEDIRI, Tandaglobal.news — Jajanan tradisional di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, mendapat sentuhan berbeda melalui kue lumpur bakar Nduk D’Tha. Berbeda dari kue lumpur pada umumnya, jajanan ini menggunakan arang sebagai sumber panas pada bagian atas cetakan sehingga menghasilkan aroma asap yang khas dan tekstur bagian dalam yang tetap lembut serta sedikit lumer.
Kue lumpur bakar Nduk D’Tha berada di Jalan PB Sudirman, Kecamatan Pare, tepatnya di kawasan timur Stadion Canda Bhirawa Pare dan di depan Swalayan Dinasti.
Usaha kuliner tersebut dikelola keluarga Dita dan telah berjalan sekitar empat tahun.
Sofia Putri, anak Dita, mengatakan ide usaha tersebut berawal dari kegemaran ibunya mencicipi berbagai kuliner di sejumlah daerah.
Dari kegiatan tersebut, Dita kemudian menemukan kue lumpur bakar di wilayah Sidoarjo dan Malang.
Pengalaman tersebut mendorong Dita membuat jajanan serupa dengan cita rasa yang disesuaikan dengan selera masyarakat Pare.
Setelah melalui sejumlah percobaan resep, mereka menemukan komposisi adonan berbahan dasar santan, telur, dan tepung.
Proses memasak menjadi pembeda utama kue lumpur Nduk D’Tha.
Adonan cair dituangkan ke dalam cetakan, kemudian bagian atasnya ditutup menggunakan tungku berisi arang.
Panas dari arang membuat bagian atas kue matang secara perlahan sekaligus memberikan aroma asap yang menjadi ciri khas jajanan tersebut.
“Kalau di sini dari adonan cair ditutup sama tungku arang jadi padat. Tapi tidak terlalu padat, masih ada lumer-lumernya,” ujar Sofia.
Kue lumpur bakar Nduk D’Tha tersedia dalam tiga pilihan rasa, yakni original, nangka, dan kelapa muda.
Varian original dijual mulai Rp2.500 per buah, sedangkan rasa nangka dan kelapa muda dibanderol Rp3.000 per buah.
Pembeli juga dapat memilih paket campuran seharga Rp15.000 yang berisi enam kue, terdiri dari dua rasa original, dua rasa nangka, dan dua rasa kelapa muda.
Harga tersebut menjadi salah satu pilihan bagi pembeli yang ingin mencicipi beberapa varian sekaligus.
Dalam sehari, produksi kue lumpur bakar tersebut dapat mencapai sekitar 60 hingga 80 liter adonan.
Jumlah tersebut dapat menghasilkan sekitar 250 paket dan disesuaikan dengan permintaan pelanggan.
Selama sekitar empat tahun beroperasi, Nduk D’Tha mulai memiliki pelanggan tetap.
Sofia menyebut, pada awal berjualan, sebagian pembeli masih belum terbiasa dengan aroma asap dari proses pembakaran menggunakan arang.
Namun, seiring waktu, karakter smoky tersebut justru menjadi salah satu daya tarik bagi pelanggan.
Pembeli mulai mengenali cita rasa dan aroma khas yang membedakan kue lumpur bakar tersebut dari jajanan sejenis.
Renita, salah seorang pembeli asal Kecamatan Kepung, mengaku cukup sering membeli kue lumpur tersebut.
Ia tertarik karena jajanan itu memiliki karakter berbeda dan cocok dijadikan camilan untuk keluarga.
“Saya kerap membeli kue lumpur ini karena memang ini satu-satunya dan rasanya enak. Biasanya saya beli siang hari untuk dimakan bersama keluarga,” kata Renita.
Pembeli lainnya, Ilya asal Kepung, mengetahui keberadaan kue lumpur tersebut dari temannya saat mengikuti les renang di Pare.
Ia kemudian tertarik mencoba karena proses pembuatannya menggunakan arang.
“Rasanya berbeda karena ada ciri khas bau arangnya, smoky-nya. Untuk cita rasa juga memang enak,” ujar Ilya.
Dengan ukuran kedai sekitar 2×3 meter, pembeli terlihat silih berganti untuk mendapatkan kue lumpur bakar tersebut.
Keunikan proses produksi dan karakter rasa menjadi salah satu daya tarik yang membuat jajanan ini memiliki pelanggan tersendiri.
Sofia berharap pelanggan Nduk D’Tha terus bertambah tanpa menghilangkan karakter rasa yang selama ini menjadi ciri khas.
Ia juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha melalui penambahan cabang di masa mendatang.
“Semoga pelanggannya tetap balik lagi. Rasanya tetap meskipun nanti ada yang buka cabang. Semoga makin laris, makin ramai. Insya Allah kita mau buka cabang,” katanya.
Saat ini, kue lumpur bakar Nduk D’Tha buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Perpaduan resep sederhana, proses pembakaran menggunakan arang, aroma smoky, tekstur lembut, dan harga yang terjangkau menjadi karakter utama jajanan tersebut di tengah beragam kuliner di Pare.



















Tinggalkan Balasan