SIDOARJO, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Candi Baru merupakan salah satu industri gula yang memiliki sejarah panjang di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pabrik yang berada di kawasan Candi ini telah melewati berbagai periode, mulai dari masa pemerintahan kolonial, perubahan kepemilikan, nasionalisasi, hingga pengelolaan oleh perusahaan negara.
Menurut sejumlah sumber akademik dan dokumentasi perusahaan, sejarah industri Pabrik Gula Candi ditelusuri hingga 1832, ketika keluarga The Goen Tjing mendirikan usaha gula dengan nama N.V. Suiker Fabriek Tjandi. Sementara itu, laman resmi perusahaan mencatat bahwa perusahaan sebelumnya sebagai perusahaan perorangan didirikan pada 19 September 1911 dan kemudian disahkan sebagai badan hukum pada 31 Oktober 1911 dengan nama NV. Suiker Fabrik Tjandi. Perbedaan pencatatan ini perlu diperhatikan karena merujuk pada tonggak sejarah yang berbeda antara awal usaha/pabrik dan pendirian badan hukum perusahaan.
Awal Industri Gula di Candi
Kemunculan industri gula di kawasan Sidoarjo tidak terlepas dari perkembangan perkebunan tebu di Jawa pada abad ke-19. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo mencatat bahwa investasi industri gula di wilayah tersebut telah berkembang sejak 1832. Pada periode itu, pengusaha Tionghoa bernama The Goen Tjing disebut mendirikan pabrik pemerahan tebu di kawasan Candi.
Lokasi Candi memiliki sejumlah faktor yang mendukung kegiatan industri gula. Sumber akademik menyebut kawasan tersebut memiliki ketersediaan tenaga kerja, pasokan air, kondisi yang sesuai untuk tanaman tebu, serta berada di jalur Surabaya–Malang. Faktor-faktor tersebut mendukung perkembangan pabrik dan perkebunan tebu di sekitarnya.
Pada 31 Oktober 1911, kepemilikan perusahaan beralih kepada keluarga Kapten Tjoa. Pada saat itu perusahaan disahkan sebagai badan hukum di Surabaya dengan nama NV. Suiker Fabriek Tjandi. Kapasitas giling yang dicatat dalam sejumlah sumber mencapai sekitar 7.500 kuintal tebu per hari, dengan produk gula jenis Superior Hooft Suiker atau SHS.
Perubahan pada Masa Perang dan Pascaperang
Perjalanan Pabrik Gula Candi tidak selalu berlangsung lancar. Menjelang kedatangan Jepang, pabrik disebut berhenti beroperasi pada 1941. Setelah beberapa tahun tidak beroperasi, kegiatan pabrik kembali berjalan sekitar 1950 di bawah pengelolaan pihak Belanda.
Setelah Indonesia memasuki periode nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, Pabrik Gula Candi juga mengalami perubahan pengelolaan. Dalam RUPS pada 8 Februari 1962, nama perusahaan berubah menjadi PT Pabrik Gula Tjandi setelah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia.
Pada periode setelah nasionalisasi, perusahaan kembali mengalami perubahan kepemilikan. Pada 1963, sebagian saham dibeli H. Wirontono Bakrie. Kemudian pada 1972, seluruh saham perusahaan disebut telah berada di tangan keluarga H. Wirontono Bakrie.
Peningkatan Kapasitas Produksi
Memasuki dekade 1970-an dan 1980-an, pengelolaan perusahaan diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi. Sumber akademik mencatat adanya peningkatan kapasitas giling pada 1975, kemudian kembali ditingkatkan pada 1981. Produk utama yang dihasilkan adalah gula jenis SHS.
Perubahan besar kembali terjadi pada awal 1990-an. Sejak 1991, manajemen Pabrik Gula Tjandi berada di bawah PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Pada 1992, RNI mengambil alih 55 persen saham perusahaan dari H. Wirontono Bakrie.
Memasuki masa giling 1993, nama perusahaan berubah menjadi PT Pabrik Gula Candi Baru. Sejumlah sumber akademik mencatat bahwa pada periode tersebut kapasitas giling telah berkembang dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Memasuki Era Modern
Perkembangan berikutnya diarahkan pada modernisasi proses produksi. Sumber akademik mencatat bahwa pada 2004 dilakukan berbagai upaya peningkatan kinerja melalui pengembangan teknologi di bidang on-farm dan off-farm. Pengembangan tersebut antara lain berkaitan dengan pemilihan bibit tebu dan peningkatan proses pengolahan hasil panen.
Investasi dan pembaruan teknologi juga terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Salah satu sumber mencatat pemasangan cooling tower pada 2013 untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air pada kondensor. Pada 2014, perusahaan mulai menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dan SNI 3140.3:2010.
Dalam proses produksinya, PG Candi Baru menghasilkan gula kristal putih dengan jenis SHS. Produk samping pengolahan tebu antara lain tetes, ampas, dan blotong yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri.
Bagian dari Sejarah Industri Gula Sidoarjo
Keberadaan Pabrik Gula Candi Baru tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang industri gula di Sidoarjo. Kawasan ini berkembang sebagai salah satu wilayah industri gula sejak abad ke-19, dan keberadaan sejumlah pabrik turut membentuk aktivitas ekonomi serta perkembangan kawasan di sekitarnya.
Dari usaha gula yang sejarahnya ditelusuri hingga 1832, kemudian mengalami perubahan kepemilikan dan status hukum pada awal abad ke-20, melewati masa perang, nasionalisasi, perubahan pengelolaan swasta, hingga masuk dalam pengelolaan RNI, Pabrik Gula Candi Baru menjadi bagian dari perjalanan panjang industri gula Indonesia.
Catatan sejarah: Untuk penulisan yang benar-benar presisi, sebaiknya 1832 disebut sebagai awal sejarah industri/pabrik Candi berdasarkan sejumlah sumber akademik, sedangkan 19 September 1911 dan 31 Oktober 1911 digunakan ketika membahas pendirian dan pengesahan badan hukum perusahaan sebagaimana dicatat dalam sumber resmi perusahaan.



















Tinggalkan Balasan