Menurut Prabowo, nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan semangat perjuangan bangsa Indonesia. Ia menilai prinsip yang ditanamkan melalui pendidikan Gontor tidak hanya berkaitan dengan pembentukan pengetahuan, tetapi juga sikap dan karakter peserta didik.

Presiden juga menekankan pentingnya kejujuran dan integritas dalam membangun sumber daya manusia. Nilai pendidikan, menurutnya, perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar generasi penerus bangsa tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga tanggung jawab moral dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.

Salah satu nilai yang mendapat perhatian Presiden adalah berdikari atau kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Prabowo mengaitkan semangat tersebut dengan upaya Indonesia membangun kemandirian nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Presiden menegaskan bahwa kemandirian bangsa perlu dibangun melalui kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan energi. Menurutnya, kedua sektor tersebut merupakan bagian penting dari kekuatan suatu negara agar tidak terlalu bergantung pada pihak lain.

Dalam sambutannya di Gontor, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia sejak 1 Juli 2026 tidak lagi mengimpor solar. Pernyataan tersebut juga dilaporkan ANTARA setelah Presiden menyampaikannya dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor.

Pemerintah sebelumnya juga terus mendorong penguatan kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Dalam konteks tersebut, Presiden menempatkan kemampuan memenuhi kebutuhan energi sebagai salah satu bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia agar mampu berdiri secara mandiri di tengah dinamika global.

Bagi Prabowo, konsep berdikari tidak berhenti pada aspek ekonomi dan energi. Kemandirian juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan luas, mampu berpikir secara bebas, serta mempunyai keberanian dan tanggung jawab untuk mengambil peran dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, Presiden mengajak generasi muda untuk memandang masa depan Indonesia dengan optimisme. Namun, optimisme tersebut menurutnya perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, terutama dalam menerima dan menyaring berbagai informasi yang berkembang.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan informasi yang semakin cepat. Generasi muda diharapkan tidak menerima setiap informasi begitu saja, melainkan mampu menilai dan memahami informasi secara kritis sebelum menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan.

Prabowo juga mendorong generasi muda mempersiapkan diri untuk menerima estafet kepemimpinan bangsa. Menurutnya, pembangunan Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter, integritas, kemandirian, serta semangat pengabdian.

Peringatan satu abad Gontor menjadi momentum untuk melihat perjalanan pendidikan pesantren sekaligus memikirkan peran pendidikan dalam menghadapi tantangan masa depan. Selama satu abad, Gontor berkembang sebagai lembaga pendidikan yang memadukan pembelajaran dengan penanaman nilai dan kehidupan kepesantrenan.

Selain menghadiri resepsi kesyukuran, Presiden Prabowo juga menandatangani dua prasasti sebagai bagian dari legasi satu abad PMDG. Kedua prasasti tersebut masing-masing berkaitan dengan peresmian renovasi Aula BPPM dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Aula BPPM merupakan salah satu bangunan bersejarah di lingkungan Gontor. Gedung yang sebelumnya bernama Balai Pertemuan Kaum Muslimin tersebut dibangun sekitar 1933-1934 dan telah mengalami sejumlah tahap renovasi.