SUMEDANG, TandaGlobalNews — PT Kahatex merupakan salah satu perusahaan tekstil terintegrasi terbesar di Indonesia yang berkembang dari sebuah usaha manufaktur tekstil pada akhir 1970-an menjadi kompleks industri dengan berbagai tahapan produksi.

Perusahaan didirikan pada 1979 oleh L.H. Song Liang-Hua. Pada awalnya Kahatex merupakan pabrik rajut dan pencelupan. Dalam perjalanan lebih dari empat dekade, kegiatan produksinya berkembang mencakup serat, pemintalan, pertenunan, pencelupan, finishing, garmen, kaus kaki, selimut dan berbagai produk tekstil lainnya.

Berdiri pada 1979

Sejarah Kahatex bermula pada 1979.

Profil resmi perusahaan menyebut Kahatex awalnya didirikan sebagai knitting mill dan dye house oleh L.H. Song Liang-Hua.

Artinya, perusahaan pada masa awal belum menjadi kompleks tekstil yang terintegrasi seperti sekarang.

Kegiatan utamanya masih berkaitan dengan rajut dan pencelupan.

Perkembangan bisnis kemudian mendorong perusahaan memperluas kemampuan produksi.

Dari Pabrik Rajut Menjadi Industri Terintegrasi

Salah satu ciri utama perjalanan Kahatex adalah ekspansi vertikal.

Perusahaan tidak hanya mempertahankan kegiatan awal berupa knitting dan dyeing, tetapi kemudian memperluas fasilitas hingga mencakup berbagai tahap produksi.

Profil resmi Kahatex saat ini menyebut perusahaan memiliki kemampuan produksi mulai dari polyester chips, polyester fiber, yarn, fabric, garment, socks hingga blanket.

Integrasi tersebut membuat Kahatex dapat mengendalikan lebih banyak tahapan dalam rantai produksi tekstil.

Ekspansi ke Sumedang

Salah satu perkembangan terbesar Kahatex adalah pembangunan kompleks produksi di wilayah Rancaekek, Sumedang.

Selain fasilitas di Sumedang, Kahatex juga mempunyai lokasi produksi di wilayah Cijerah, Bandung, dan Solokan Jeruk, Majalaya.

Profil perusahaan saat ini menyebut total area gabungan fasilitas produksinya mencapai lebih dari 185 hektare di tiga lokasi.

Perkembangan tersebut menunjukkan skala ekspansi Kahatex selama puluhan tahun.

Rancaekek Menjadi Basis Penting

Kompleks Kahatex di Rancaekek berkembang menjadi salah satu kawasan manufaktur tekstil terbesar yang berada di sekitar Bandung.

Letaknya di koridor Bandung–Sumedang membuat kawasan tersebut memiliki akses terhadap jaringan transportasi dan tenaga kerja di Bandung Raya serta Sumedang.

Perkembangan fasilitas industri di kawasan ini juga ikut membentuk karakter ekonomi Rancaekek sebagai salah satu kawasan industri penting.

Produk Semakin Beragam

Ekspansi Kahatex tidak hanya dilakukan melalui penambahan kapasitas.

Perusahaan juga memperluas jenis produk.

Dari awal yang berfokus pada rajut dan pencelupan, Kahatex kemudian mengembangkan produksi serat polyester, benang, kain, pakaian jadi, kaus kaki dan selimut.

Diversifikasi tersebut membuat perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dari berbagai segmen.

Memasuki Pasar Global

Kahatex kemudian berkembang menjadi perusahaan yang berorientasi pada pasar internasional.

Profil resmi perusahaan menyebut lebih dari 40 persen produk Kahatex diekspor secara langsung ke lebih dari 80 negara.

Perusahaan juga menyebut sejumlah merek global sebagai mitranya, antara lain Adidas, H&M, S.Oliver, C&A, Muji dan GU.

Orientasi ekspor tersebut membuat kegiatan produksi di Sumedang terhubung dengan rantai pasok fashion internasional.

Pertumbuhan Tenaga Kerja

Skala produksi Kahatex juga tercermin dari jumlah tenaga kerja.

Profil resmi perusahaan menyebut jumlah tenaga kerja mencapai lebih dari 55.000 orang.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh kompleks industri Kahatex terhadap perekonomian lokal.

Selain tenaga kerja langsung, kegiatan perusahaan juga berhubungan dengan berbagai pemasok dan jasa pendukung.

Modernisasi Fasilitas

Pertumbuhan Kahatex berlangsung bersamaan dengan modernisasi.

Perusahaan menyatakan terus melakukan ekspansi dan modernisasi fasilitas serta mengeksplorasi metode produksi yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Modernisasi diperlukan karena industri tekstil global mengalami perubahan teknologi yang cepat.

Produsen harus menjaga kualitas sekaligus meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing di pasar internasional.

Tantangan Lingkungan

Sebagai kompleks tekstil yang besar, Kahatex juga menghadapi berbagai persoalan lingkungan.

Salah satu isu yang pernah mendapat perhatian luas adalah persoalan pencemaran di kawasan Cikijing yang berkaitan dengan aktivitas industri tekstil di Rancaekek.

Pada 2018, CNN Indonesia memberitakan polemik antara manajemen Kahatex dan pemerintah daerah mengenai persoalan izin serta pengelolaan limbah.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari dinamika industri tekstil besar di kawasan Rancaekek.

Kahatex Hari Ini

Lebih dari empat dekade setelah didirikan, Kahatex telah berubah dari pabrik rajut dan pencelupan menjadi perusahaan tekstil yang terintegrasi secara vertikal.

Perusahaan kini mempunyai berbagai fasilitas produksi yang membentang di tiga lokasi dengan luas lebih dari 185 hektare.

Perjalanan tersebut menjadikan Kahatex salah satu perusahaan tekstil keluarga terbesar di Asia Tenggara.

Warisan Industri Sumedang

Sejarah Kahatex tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri tekstil di kawasan Bandung Raya dan Sumedang.

Rancaekek yang dahulu dikenal sebagai kawasan antara Bandung dan Sumedang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur.

Kahatex menjadi salah satu perusahaan yang memainkan peran besar dalam perubahan tersebut.

Dari pabrik rajut dan pencelupan yang didirikan L.H. Song Liang-Hua pada 1979, PT Kahatex berkembang menjadi kompleks tekstil terintegrasi yang mencakup serat, benang, kain hingga pakaian jadi. Lebih dari empat dekade kemudian, perusahaan tersebut menjadi salah satu pemain terbesar industri tekstil Indonesia dengan pasar yang menjangkau puluhan negara.