KEDIRI, Tandaglobal.news — Suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, berlangsung semarak dengan digelarnya Dewata Keling Carnival 2026, Sabtu (5/9/2026).

Karnaval yang digelar sepanjang jalan wilayah Dusun Jegles hingga Desa Keling tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengangkat kembali kebudayaan dan cerita Nusantara melalui konsep film tempo dulu.

Mengusung tema “Ragam Pesona Nostalgia Film Nusantara”, kegiatan tahun ini mengambil inspirasi dari berbagai cerita legenda Indonesia yang pernah diangkat ke layar film serta film-film populer pada masa lalu.

Dewata Keling Carnival 2026 merupakan gelaran keempat sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan PHBN di tingkat Desa Keling.

Kepala Desa Keling, Imam Fatoni, mengatakan konsep film jadul sengaja dipilih untuk mengenalkan kembali cerita dan budaya Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat budaya dan cerita lama ditinggalkan.

“Kami ingin mengangkat kembali film-film tempo dulu dan cerita legenda Nusantara yang pernah dikenal masyarakat. Harapannya, budaya Indonesia tetap dikenang dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” ujar Imam Fatoni, Sabtu (5/9/2026).

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya dituntut menggunakan kostum, tetapi juga menampilkan konsep yang sesuai dengan tema.

Kreativitas menjadi salah satu bagian penting dalam penampilan setiap peserta.

Masyarakat Desa Keling juga turut terlibat dalam pembuatan berbagai kostum karnaval. Sejumlah karya dibuat sendiri oleh warga setempat, salah satunya ditampilkan oleh peserta dari RT 05.

Keterlibatan warga tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kemampuan para perajin kostum karnaval yang ada di Desa Keling. Selain digunakan dalam kegiatan desa, karya tersebut diharapkan dapat semakin dikenal masyarakat dari luar wilayah.

Panitia mencatat terdapat 21 peserta yang mengikuti Dewata Keling Carnival 2026. Peserta dibagi dalam dua kelompok besar, yakni kategori pendidikan dan kategori umum atau masyarakat.

Untuk kategori pendidikan, peserta berasal dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP hingga MTs yang berada di wilayah Desa Keling.

Sementara kategori umum diikuti kelompok pemuda, perwakilan RT/RW, serta lembaga desa.

Panitia juga menyediakan uang pembinaan, piala atau trofi, serta piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada peserta yang dinilai mampu menampilkan kreativitas terbaik.

Berbeda dengan sejumlah karnaval yang belakangan identik dengan penggunaan sound system berukuran besar, Dewata Keling Carnival 2026 berusaha menempatkan unsur budaya sebagai bagian utama pertunjukan.

Penggunaan sound system besar atau yang biasa disebut sound horeg tetap diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku.

Peserta juga diminta mengolaborasikan penggunaannya dengan konsep karnaval budaya.

Pembatasan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan bersama untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama kegiatan berlangsung.

Imam mengatakan masyarakat dan peserta dapat menerima aturan tersebut dengan baik. Mereka tetap diberikan ruang untuk berkreasi, tetapi harus menyesuaikan penampilan dengan tema yang telah ditentukan.

“Sound system tetap ada, tetapi kami arahkan agar tidak menjadi satu-satunya daya tarik. Kami ingin ada unsur budaya, cerita, kostum, dan kreativitas yang ditampilkan sehingga karnaval ini memiliki ciri khas tersendiri,” jelasnya.

Panitia Dewata Keling Carnival, Didin Saputro, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.

Karnaval juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan hasil kreativitas mereka.

Menurutnya, keberadaan perajin dan penyedia jasa kostum karnaval di Desa Keling menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan. Melalui kegiatan tersebut, karya mereka bisa dilihat lebih banyak masyarakat.

“Kami ingin karnaval ini menjadi panggung bagi seniman dan perajin kostum lokal. Karya yang dibuat warga tidak hanya dipakai untuk acara sendiri, tetapi juga bisa dikenal masyarakat lebih luas,” kata Didin.

Selain menjadi wadah kreativitas, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga. Kostum yang dibuat oleh perajin lokal berpotensi menjadi produk atau jasa yang dapat disewakan untuk berbagai kegiatan karnaval di luar Desa Keling.

Karena itu, konsep yang diusung tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga memperkenalkan potensi lokal Desa Keling melalui karya seni dan kreativitas masyarakat.

Dewata Keling Carnival tahun ini menjadi pelaksanaan keempat sejak pertama kali digelar pada 2023. Dari tahun ke tahun, kegiatan terus dikembangkan dengan konsep yang berbeda agar masyarakat memiliki pengalaman baru setiap pelaksanaan.

Pada tahun ini, tema nostalgia film Nusantara dipilih untuk memperkuat sisi budaya.

Peserta diberikan ruang untuk menginterpretasikan berbagai cerita legenda maupun film lama melalui kostum, karakter, dan penampilan masing-masing.

Menurut Didin, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut menjadi salah satu alasan karnaval terus dipertahankan sebagai agenda dalam rangkaian PHBN Desa Keling.

“Kami berharap ke depan kegiatan ini semakin ramai dan meriah. Yang paling penting, kreativitas warga terus berkembang dan unsur budaya yang kami angkat tetap menjadi bagian utama dari karnaval,” ujarnya.

Selain Dewata Keling Carnival, peringatan HUT ke-81 RI di Desa Keling juga diisi berbagai kegiatan lain.

Masing-masing dusun menyelenggarakan agenda dan perlombaan secara mandiri sesuai dengan kemampuan serta anggaran yang dimiliki.

Di tingkat desa, keterbatasan anggaran membuat kegiatan PHBN difokuskan pada pelaksanaan karnaval.

Sementara masyarakat di tingkat dusun tetap memiliki kesempatan menggelar berbagai kegiatan secara swadaya.

Persiapan PHBN juga diwarnai dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan sebagai bagian dari upaya masyarakat menyambut peringatan kemerdekaan.

Dewata Keling Carnival 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, mulai sekitar pukul 13.00 hingga 22.00 WIB.

Rute karnaval dimulai dari kawasan Masjid Jegles Timur, kemudian melewati sejumlah ruas jalan di wilayah Desa Keling dan berakhir di SDN Keling 2.

Selain parade peserta, berdasarkan denah kegiatan, panitia juga menyiapkan panggung penghormatan sebagai lokasi pertunjukan teatrikal yang menjadi bagian dari rangkaian karnaval.

Dengan menggabungkan hiburan, kreativitas masyarakat, serta pengenalan budaya Nusantara, Dewata Keling Carnival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan HUT Kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang bagi kreativitas dan potensi ekonomi warga Desa Keling.