Untuk kategori pendidikan, peserta berasal dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP hingga MTs yang berada di wilayah Desa Keling.

Sementara kategori umum diikuti kelompok pemuda, perwakilan RT/RW, serta lembaga desa.

Panitia juga menyediakan uang pembinaan, piala atau trofi, serta piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada peserta yang dinilai mampu menampilkan kreativitas terbaik.

Berbeda dengan sejumlah karnaval yang belakangan identik dengan penggunaan sound system berukuran besar, Dewata Keling Carnival 2026 berusaha menempatkan unsur budaya sebagai bagian utama pertunjukan.

Penggunaan sound system besar atau yang biasa disebut sound horeg tetap diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku.

Peserta juga diminta mengolaborasikan penggunaannya dengan konsep karnaval budaya.

Pembatasan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan bersama untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama kegiatan berlangsung.

Imam mengatakan masyarakat dan peserta dapat menerima aturan tersebut dengan baik. Mereka tetap diberikan ruang untuk berkreasi, tetapi harus menyesuaikan penampilan dengan tema yang telah ditentukan.

“Sound system tetap ada, tetapi kami arahkan agar tidak menjadi satu-satunya daya tarik. Kami ingin ada unsur budaya, cerita, kostum, dan kreativitas yang ditampilkan sehingga karnaval ini memiliki ciri khas tersendiri,” jelasnya.

Panitia Dewata Keling Carnival, Didin Saputro, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.

Karnaval juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan hasil kreativitas mereka.

Menurutnya, keberadaan perajin dan penyedia jasa kostum karnaval di Desa Keling menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan. Melalui kegiatan tersebut, karya mereka bisa dilihat lebih banyak masyarakat.

“Kami ingin karnaval ini menjadi panggung bagi seniman dan perajin kostum lokal. Karya yang dibuat warga tidak hanya dipakai untuk acara sendiri, tetapi juga bisa dikenal masyarakat lebih luas,” kata Didin.

Selain menjadi wadah kreativitas, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga. Kostum yang dibuat oleh perajin lokal berpotensi menjadi produk atau jasa yang dapat disewakan untuk berbagai kegiatan karnaval di luar Desa Keling.

Karena itu, konsep yang diusung tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga memperkenalkan potensi lokal Desa Keling melalui karya seni dan kreativitas masyarakat.

Dewata Keling Carnival tahun ini menjadi pelaksanaan keempat sejak pertama kali digelar pada 2023. Dari tahun ke tahun, kegiatan terus dikembangkan dengan konsep yang berbeda agar masyarakat memiliki pengalaman baru setiap pelaksanaan.

Pada tahun ini, tema nostalgia film Nusantara dipilih untuk memperkuat sisi budaya.

Peserta diberikan ruang untuk menginterpretasikan berbagai cerita legenda maupun film lama melalui kostum, karakter, dan penampilan masing-masing.

Menurut Didin, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut menjadi salah satu alasan karnaval terus dipertahankan sebagai agenda dalam rangkaian PHBN Desa Keling.

“Kami berharap ke depan kegiatan ini semakin ramai dan meriah. Yang paling penting, kreativitas warga terus berkembang dan unsur budaya yang kami angkat tetap menjadi bagian utama dari karnaval,” ujarnya.