SLEMAN, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Rewulu merupakan salah satu bekas pabrik gula yang pernah menjadi bagian penting dari industri perkebunan di Yogyakarta pada masa kolonial Hindia Belanda. Pabrik ini berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejarah Rewulu berkaitan dengan perkembangan perkebunan komersial di kawasan Godean. Pada 1870, A. Th. Raaff membuka perkebunan nila (indigo) di sekitar Godean.
Ketika harga nila mengalami penurunan pada akhir abad ke-19, sebagian perkebunan kemudian beralih ke komoditas tebu. Rewulu termasuk kawasan yang berkembang menjadi perkebunan tebu dan pabrik gula.
Tahun 1870 juga tercantum dalam sebuah kajian akademik sebagai tahun berdirinya PG Rewulu dengan Erven Raaff sebagai pendirinya.
Namun, sumber lain menyebut proses perubahan dari perkebunan nila menjadi perkebunan tebu dan pabrik gula tidak diketahui secara pasti. Karena itu, Rewulu lebih tepat disebut berkembang sekitar 1870.
Perkembangan Rewulu tidak terlepas dari pertumbuhan industri gula Yogyakarta setelah diberlakukannya Agrarische Wet 1870. Kebijakan tersebut membuka ruang lebih besar bagi modal swasta untuk mengembangkan perkebunan di Hindia Belanda.
Yogyakarta memiliki kondisi tanah yang relatif subur dan ketersediaan air yang mendukung pertanian. Pada masa kejayaannya, wilayah Yogyakarta memiliki sekitar 19 pabrik gula dan Rewulu termasuk di antaranya.
Pada awal abad ke-20, perkebunan tebu dan Pabrik Gula Rewulu disebut telah diakuisisi N.V. Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden.
Pabrik tersebut kemudian mengalami pengembangan, termasuk perluasan yang dilakukan dengan bantuan biro teknik E. Rombout.
Keberadaan industri gula juga mendorong pembangunan jaringan transportasi. Jalur kereta api dan jaringan lori digunakan untuk mengangkut tebu dari perkebunan menuju pabrik sekaligus mendistribusikan hasil produksi.
Pemerintah kolonial dan perusahaan kereta api seperti Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) mengembangkan jaringan transportasi yang mendukung aktivitas industri gula di Yogyakarta.
Salah satu catatan sejarah mengenai Rewulu menyebut Stasiun Rewulu didirikan pada 1914. Pembangunan stasiun tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan pengangkutan hasil perkebunan dan distribusi produksi pabrik gula.
Kejayaan industri gula Rewulu kemudian menghadapi persoalan akibat krisis ekonomi dunia pada 1929–1930-an. Anjloknya perekonomian internasional menyebabkan permintaan dan harga gula menurun.
Industri gula di Hindia Belanda ikut terdampak sehingga produksi harus dikurangi dan sejumlah pabrik akhirnya berhenti beroperasi.
Pabrik Gula Rewulu disebut ditutup pada 1937. Produksi perkebunannya kemudian dialihkan ke Pabrik Gula Padokan.
Kajian sejarah Bantul juga mencatat bahwa Padokan memanfaatkan sejumlah fasilitas dari pabrik gula yang telah ditutup, termasuk Rewulu.
Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, pabrik-pabrik gula di wilayah Yogyakarta berada di bawah penguasaan Jepang. Namun, tidak semua pabrik dapat beroperasi secara normal karena situasi perang dan keterbatasan pengelolaan.
Dalam periode revolusi kemerdekaan, nama Rewulu kembali muncul dalam catatan sejarah. Dokumen mengenai Revolusi Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat Pabrik Gula Rewulu sebagai salah satu perusahaan dan pabrik yang berhasil dikuasai bangsa Indonesia pada September 1945.
Jejak fisik Pabrik Gula Rewulu kini sudah sangat terbatas. Inventarisasi pabrik gula Yogyakarta mencatat di lokasi bekas pabrik hanya tersisa sejumlah struktur pondasi beton dan beberapa fitur lain yang berkaitan dengan kompleks pabrik.
Dinas Kebudayaan DIY memasukkan Rewulu dalam daftar 19 pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta. Saat ini, Rewulu tidak lagi beroperasi sebagai pabrik gula dan lebih dikenal sebagai bagian dari sejarah industri perkebunan serta perkembangan wilayah Godean.
Pabrik Gula Rewulu menjadi salah satu peninggalan sejarah industri gula Yogyakarta. Berawal dari perkembangan perkebunan di Godean sekitar 1870, Rewulu kemudian berkembang menjadi perkebunan dan pabrik gula yang didukung jaringan transportasi kereta api.
Krisis ekonomi dunia pada akhir 1920-an dan 1930-an menyebabkan pabrik ini mengalami kemunduran hingga berhenti pada 1937. Kini, bangunan utamanya telah hilang dan hanya sebagian kecil jejak struktur yang masih dapat ditemukan di lokasi bekas pabrik.



















Tinggalkan Balasan