Tandaglobal.news | Kudus — Kesunyian malam di kawasan Pabrik Gula (PG) Rendeng, Kudus, pada 1938 menjadi saksi perjalanan panjang seorang penjaga malam bernama Kasman.

Selama puluhan tahun, Kasman mengabdikan dirinya menjaga keamanan pabrik hingga akhirnya harus mengakhiri masa kerja karena usia.

Setelah aktivitas penggilingan selesai setiap hari, kawasan pabrik berubah menjadi lengang.

Suara mesin berganti dengan bunyi serangga malam dan langkah kaki penjaga yang berkeliling memeriksa lingkungan pabrik.

Di pos keamanan dekat gerbang utama, Kasman menjalankan rutinitasnya dengan menyalakan lampu karbit.

Cahaya kecil dari lampu tersebut menjadi penerang selama ia bertugas menjaga kawasan PG Rendeng.

Kasman telah berusia 60 tahun ketika masa kerjanya harus berakhir.

Sejak muda, ia bekerja sebagai penjaga malam di PG Rendeng dan dikenal sebagai pekerja yang setia.

Selama bertahun-tahun, ia menjalankan tugas tanpa banyak menuntut.

Bagi Kasman, selama tenaganya masih dibutuhkan dan gerbang pabrik masih harus dijaga, ia akan tetap datang menjalankan kewajibannya.

Menjelang giliran jaga pada suatu sore, Kasman dipanggil ke kantor administrasi oleh seorang Boekhouder berkebangsaan Belanda bernama Tuan Van Dijk.

Di hadapan buku catatan kerja yang telah penuh dengan tulisan tangan, Van Dijk menyampaikan apresiasi atas dedikasi Kasman selama bekerja.

“Kasman,” ujar Van Dijk sambil membuka catatan tersebut, “catatan kerjamu sangat baik. Kamu dikenal rajin, setia, bahkan sering menggantikan rekan yang tidak bisa masuk bekerja.”

Kasman hanya menjawab singkat.

“Saya hanya menjalankan apa yang bisa saya lakukan, Tuan.”

Van Dijk kemudian menjelaskan bahwa perusahaan tetap harus menjalankan aturan mengenai batas usia kerja.

“Namun aturan tetap harus dijalankan. Usiamu kini sudah enam puluh tahun. Saya tidak bisa memperpanjang masa kerjamu ataupun memindahkanmu ke bagian lain. Ini bukan karena kamu melakukan kesalahan.”

Sebagai bentuk penghargaan pribadi, Van Dijk memberikan sebuah arloji rantai kepada Kasman.

Ia mengetahui bahwa benda tersebut telah lama menjadi keinginan Kasman.

“Saya tahu kamu sudah lama menginginkan benda ini. Setiap kali kita bertemu, saya melihat pandanganmu selalu tertuju pada arloji yang saya pakai.”

Kasman menerima hadiah tersebut dengan penuh hormat.

Baginya, arloji merupakan barang yang selama ini sulit dimiliki karena penghasilannya selalu habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Arloji ini bukan hadiah dari perusahaan. Ini hadiah pribadi dari saya,” kata Van Dijk.

Kasman pun mengucapkan terima kasih atas perhatian tersebut.

Malam itu menjadi giliran jaga terakhir bagi Kasman di PG Rendeng.

Ia tetap menjalankan seluruh tugas seperti biasa, mulai dari memeriksa gudang hingga kembali ke pos keamanan.

Menjelang akhir giliran, ia memadamkan lampu karbit yang selama bertahun-tahun menemaninya bekerja.

Nyala api lampu tersebut padam perlahan dan menandai berakhirnya masa pengabdian Kasman di PG Rendeng.

Setelah pensiun, Kasman tidak lagi bertugas sebagai penjaga malam.

Namun, sesekali ia masih datang ke pos keamanan dengan membawa arloji rantai pemberian Van Dijk.

Ia menghabiskan waktu bersama rekan-rekan lamanya sambil menikmati secangkir kopi dan berbincang hingga larut malam.

Meski statusnya bukan lagi seorang penjaga, pos keamanan itu tetap menjadi tempat yang akrab bagi Kasman.

Bagi dirinya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi bekerja, melainkan ruang yang menyimpan kenangan dari puluhan tahun pengabdian di PG Rendeng.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.