
Tandaglobanews KEDIRI – Pemandangan berbeda terlihat di tengah gunungan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sekoto, Kabupaten Kediri. Di antara hiruk-pikuk truk pembuangan dan alat berat, tampak puluhan ekor kambing berkeliaran dengan bebas di area pembuangan sampah tersebut.
Keberadaan hewan ternak ini ternyata bukan tanpa alasan. Menurut Koordinator Lapangan TPA Sekoto, Pak Iswanto, kawanan kambing tersebut adalah milik warga sekitar TPA yang sengaja dilepasliarkan atau dilingon (digembalakan) setiap harinya.
”Kambing-kambing itu memang milik warga sini. Sengaja dilepas di area TPA untuk mencari makan dari sisa-sisa makanan atau sampah organik yang dibuang ke sini,” ujar Iswanto saat ditemui di lokasi kerja.

Mengurangi Beban Sampah Organik Pasar
TPA Sekoto setiap harinya menerima pasokan sampah dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri, termasuk dari pasar-pasar induk. Hal ini membawa berkah tersendiri bagi peternak lokal. Sampah organik berupa sisa sayuran, kulit pisang, hingga kulit nanas dari pasar menjadi sumber pakan gratis yang melimpah bagi kambing-kambing tersebut.
Secara tidak langsung, kehadiran kawanan kambing ini membantu para petugas TPA dalam menyusutkan volume sampah organik. Hewan-hewan ini bertindak sebagai “pengurai alami” sebelum sampah-sampah tersebut masuk ke proses pengolahan lebih lanjut seperti pengomposan.
Aman dari Limbah Medis Berbahaya
Meskipun digembalakan di tempat pembuangan sampah, pihak pengelola TPA memastikan bahwa area tersebut kini jauh lebih aman bagi hewan ternak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, sampah yang masuk ke TPA Sekoto didominasi oleh sampah rumah tangga dan pasar.
Limbah medis berbahaya dari rumah sakit yang dulunya dikhawatirkan dapat tercampur—seperti pampers medis atau botol infus—kini sudah tidak ada lagi di area terbuka karena telah diolah secara mandiri oleh pihak rumah sakit sebelum dikirim. Petugas juga langsung memilah dan membakar sampah kain atau pampers rumah tangga guna meminimalisir bahaya bagi lingkungan sekitar, termasuk bagi hewan ternak yang mencari makan.
Fenomena bertemunya sektor peternakan tradisional warga dengan pengelolaan sampah modern di TPA Sekoto ini menjadi potret unik bagaimana warga lokal memanfaatkan situasi di tengah tantangan melonjaknya volume sampah daerah yang kini mencapai 140 ton per hari.
Jurnalis : Fitri Rahayu